Disamping memelihara ikan, memelihara kepompong dalam terrarium mempunyai keasyikan tersendiri. 
Kupu-kupu

Ternyata binatang yang sering kutempatkan di terrarium itu memiliki beberapa sisi keren:
1.Kupu-kupu dan Ngengat diklasifikasikan kedalam Ordo: Lepidoptera,  yang artinya serangga bersayap sisik (lepis, sisik dan pteron, sayap) karena sayap sisiknya mempunyai corak serta pola warna. Punya 2 (super) family. Hesperioidea dan  Papilionoidea:
Ngengat

2. Walau secara ilmiah tidak ada perbedaan yang pasti. Secara visual beda kupu-kupu (butterfly) dengan ngengat (moth) ialah :
  • Ngengat cenderung gelap, kusam atau kelabu. Meski demikian, perbedaan-perbedaan ini selalu ada perkecualiannya Kupu-kupu biasanya memiliki warna yang indah cemerlang. 
  • Ngengat kebanyakan aktif di waktu malam (nocturnal) sehingga sering disebut kupu-kupu malam, sedang Kupu-kupu aktif di waktu siang (diurnal).
  • Ngengat saat hinggap beristirahat dengan membentangkan sayapnya, Kupu-kupu hinggap dengan menegakkan sayapnya.
  • Antena Ngengat seperti kawat lampu yang ditempel di kepalanya, antena kupu-kupu yang tajam dengan tonjolan seperti tongkat golf.

3. Di dunia terdapat sekitar 20.000 spesies Kupu-kupu. Indonesia adalah negara kedua pemilik kupu-kupu terbanyak di dunia Indonesia sekitar 2.500 jenis kupu-kupu. Brasil di hutan belantara Amazon memiliki jenis terbanyak.

4. Kupu-kupu di Indonesia lebih unik dan beragam, terdiri lebih dari 17.000 pulau, terjadi pemisahan habitat kupu-kupu secara geografis. 50 persen Kupu-kupu Indonesia adalah kupu-kupu endemik yang berarti hanya hidup di tempat itu. Amazon hanya memiliki tingkat endemisitas kupu-kupu kurang dari 10 persen dari total jumlah jenisnya.

5. Sulawesi adalah pulau yang memiliki keunikan kupu-kupu tertinggi di Indonesia. Dari 557 jenis yang ada di sana, sebanyak 239 jenis (lebih dari 40 persen) merupakan jenis yang hanya dapat dijumpai di kawasan itu.

6. 20 jenis kupu-kupu di Indonesia telah dimasukkan ke dalam daftar jenis satwa yang dilindungi melalui Peraturan Pemerintah No 7/1999. Antara lain Cethosia myrina yang dikenal sebagai kupu-kupu sayap renda yang hanya dijumpai di Sulawesi, Trogonoptera brookiana yang dikenal sebagai kupu-kupu raja Brooke yang dijumpai di Sumatera dan Kalimantan.

7. 16 jenis kupu-kupu dari marga Ornithoptera atau kupu-kupu sayap burung dijumpai di Maluku dan Papua. sedang 11 jenis kupu-kupu dari marga Troides yang dikenal sebagai kupu-kupu raja (contohnya Troides hypolitus), kebanyakan dijumpai di Indonesia bagian barat dan Sulawesi, serta beberapa jenis berada di Maluku dan Papua. kupu-kupu sayap burung Ornithoptera aesacus yang hanya ditemukan di Pulau Obi dan kupu-kupu sayap burung Ornithoptera croesus yang hanya ditemukan di pulau-pulau di Maluku Utara. 60 Spesies Kupu-kupu terdapat di Lampung

8. Kupu-kupu adalah hewan yang mengalami metamorfis sempurna (holometabolisme)yaitu : proses perubahan fisik biologis hewan setelah dilahirkan atau menetas baik berupa perubahan bentuk atau struktur melalui pertumbuhan sel dan differensiasi sel dimulai dari telur kupu-kupu yang biasanya terdapat di daun, menetas kemudian menjadi ulat (larva). ulat menjadi besar dan memanjang, ia akan berubah menjadi kepompong. (pupa /chrysalis) kemudian kupu-kupu dewasa (imago).
Beda dengan metamorfosis tak sempurna (hemimetabolisme) seperti capung, jangkrik, kunang-kunang, belalang, yang menjadi hewan dewasa setelah berubah dari bentuk nimfa. Kemudian larva berlangsung pada fase pertumbuhan berulang lewat ekdisis (pergantian kulit). umur dalam satu daur kupu-kupu adalah sekitar 8 hingga 9 minggu saja

9. Kupu-kupu dewasa rata-rata berumur satu bulan. di alam liar umurnya lebih pendek karena predator, penyakit, maupun faktor lain. yang ekstrem seperti kupu-kupu monarch, mourning cloak, dan tropical heliconian yang bisa hidup hingga sembilan bulan, kupu-kupu terkecil hanya berumur satu minggu (North American Butterfly Association ).

10. Kupu-kupu hidup dari nektar bunga, beberapa menyukai cairan yang dihisap dari buah-buahan yang jatuh di tanah dan membusuk, daging bangkai, kotoran burung dan tanah basah.

11. Kupu-kupu betina lebih memilih pasangan kawinnya yang memiliki pupil alias titik putih pada sayapnya.
Kupu-kupu

Kupu-kupu betina tertarik pada kilauan cahaya yang dihasilkan dari pantulan cahaya ultraviolet oleh pupil, lingkaran putih yang berada di pusat ornamen berbentuk lingkaran di sayap. Sebaliknya bentuk ornamen sayap, warna, dan ukurannya tidak terlalu dipedulikan.

12. Kupu-kupu seperti juga serangga penyerbuk lain dan kelelawar membantu penyerbukan tanaman yang artinya menjaga ekosistem hutan, kebun dan ekosistem alami lainnya. Lingkungan yang rusak membuat populasi kupu-kupu berkurang.

13. Spesimen kupu-kupu tersimpan dengan baik di Laboratorium Entomologi, Bidang Zoologi, Museum Zoologi Bogor, dan Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Sedang Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, di Maros, Sulawesi selatandan Taman Gita Persada daerah kaki Gunung Betung, Desa Tanjung Manis Kelurahan Kedaung, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung adalah salah satu tempat konservasi dan pengembangan kupu-kupu melalui usaha penangkaran in-situ.

Tertarik untuk tahu lebih tentang kupu-kupu?

Tulisan terkait :


Foto-foto illustrasi milik pribadi

siklus di jawa

Jadi penasaran mendengar maraknya sms primbon. 
Bagaimana sih awalnya perhitungan hari dan pasaran serta berbagai siklus atau perputaran kala atau kronos? Ternyata awalnya nama-nama hari, nama bulan dan perhitungan kala revolusi bumi terhadap matahari yang kita kenal sebagai tahun Saka dibawa oleh orang-orang Hindhu dari India.

Nama orisinil dari siklus tujuh harian (Saptawara), tersebut adalah Aditya (Minggu), Soma (Senin), Anggara (Selasa), Budha (Rabu), Whraspati (Kamis), Cukra (Jumat) dan Caniscara (Sabtu) kemudian dilafalkan dengan lidah Jawa :
1. Radite / Dite (Ahad / Minggu)
2. Soma (Senin)
3. Anggara / Anggoro (Selasa)
4. Budha / Budho (Rabu)
5. Respati (Kamis)
6. Sukra / Sukro (Jumat)
7. Tumpak (Sabtu)

Siklus kedua adalah siklus 5 harian (Pancawara) yang kita kenal sebagai hari (dina) pasaran.
1. Legi sinonim dengan Manis atau Pethak / pethakan (artinya: putih)
2. Pahing bersinonim dengan Abritan / Abrit (artinya: merah) disebut juga Jenar.
3. Pon bersinonim dengan Jene / Jeneyan (artinya: Kuning) atau Palguna.
4. Wage bersinonim dengan Cemeng / Cemengan (artinya: hitam) atau Kresna /  Langking
5. Kliwon sinonim Kasihan / Kasih.
Weton adalah kombinasi hari kelahiran dengan hari pasarannya, Selamatan pertama disebut selapan, Selapan adalah siklus 35-harian gabungan dari nama hari dan pasaran ( kelipatan 7 dan 5) misalnya:
Selasa legi = Anggoro Manis
Jumat Kliwon = Sukro Kasih
Menurut unsurnya : Kliwon unsur jiwa, Legi unsur udara, pahing unsur api, pon unsur air dan wage unsur tanah (jadi ingat sama Avatar Aang)




Kemudian siklus ketiga adalah Paringkelan (Sadwara) yaitu: perhitungan hari dengan siklus 6-harian, terdiri dari:
1. Tungle (Daun)
2. Aryang (Manusia)
3. Wurukung (Hewan)
4. Paningron (Mina / Ikan)
5. Uwas (Peksi / Burung)
6. Mawulu (Taru / Benih)

Siklus keempat adalah Padewan (Dewa penguasa hari), Perhitungan hari dengan siklus 8 harian (Hastawara):
1. Sri 
2. Indra
3. Guru
4. Yama
5. Rudra
6. Brama
7. Kala
8. Uma

Siklus kelima adalah Padangon (Sangawara), yaitu perhitungan hari dengan siklus 9 harian terdiri dari:
1. Dangu (Batu)
2. Jagur (Harimau)
3. Gigis (Bumi)
4. Kerangan (Matahari)
5. Nohan (Rembulan)
6. Wogan (Ulat)
7. Tulus (Air)
8. Wurung (Api)
9. Dadi (Kayu)



Kemudian siklus keenam adalah Wuku atau Pawukon yaitu: perhitungan hari dengan siklus 210 harian, terdiri dari 30 wuku :
1. Sinta ; 2. Landhep ; 3. Wukir ; 4. Kurantil; 
5. Tolu ; 6. Gumbreg ; 7. Warigalit ;
8. Warigagung ; 9. Julungwangi ; 10. Sungsang ; 11. Galungan ; 12. Kuningan ; 
13. Langkir ; 14. Mandhasiya ; 
15. Julungpujud ; 16. Pahang ; 17. Kuruwelut ; 18. Marakeh ; 19. Tambir ; 
20. Medhangkungan ; 21. Maktal ; 22. Wuye ;  23. Manahil ; 24. Prangbakat ; 25. Bala ; 
26. Wugu ; 27. Wayang ; 28. Kulawu ; 
29. Dhukut ; 30. Watugunung

Menurut Pak Hendro Setyanto, Hingga 1633 masehi masyarakat Jawa masih menggunakan sistem penanggalan berdasarkan pergerakan matahari. Penanggalan matahari dikenal sebagai Saka Hindu Jawa. Tahun Saka Hindu 1555, bertepatan dengan tahun 1633 masehi, Raja Mataram Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo mengganti konsep dasar sistem penanggalan Matahari (Solar atau Syamsiyah) menjadi sistem Bulan (Lunar atau Komariyah). Perubahan sistem penanggalan dilakukan hari Jumat Legi, saat pergantian tahun baru Saka 1555 yang ketika itu bertepatan dengan tahun baru Hijriah tanggal 1 Muharam 1043 hijriyah dan 8 Juli 1633 masehi. Pergantian sistem penanggalan tidak mengganti hitungan tahun Saka 1555 yang sedang berjalan menjadi tahun 1, melainkan meneruskannya. Hitungan tahun tersebut berlangsung hingga saat ini.

Secara astronomis, kalender Jawa tergolong kalender matematis, sedangkan kalender Hijriyah adalah kalender astronomis. Kalender matematis atau kalender aritmatis adalah sistem penanggalan yang aturannya didasarkan pada perhitungan matematika dari fenomena alam. Sifatnya yang pasti sebagai kalender matematis membuat penanggalan Jawa tidak mengalami sengketa dalam penentuan awal bulan seperti penanggalan Hijriyah.
Candrasangkala Jawa atau perhitungan penanggalan Jawa menetapkan pergantian hari atau bulan saat matahari terbenam (biasa disebut surup, antara pukul 17.00 sampai dengan 18.00), sedang pergantian hari saat pergantian bulan pada penanggalan Hijriah ditentukan melalui Hilal dan Rukyat. Kalender hijriyah mempunyai kemudahan tersendiri karena sederhana dan mudah untuk diamati.

Siklus Jawa yang pengaruhi oleh hitungan hari bulan Kamariyah adalah siklus ketujuh yaitu Sasi (bulan) Jawa, terdiri dari 12 sasi:
1. Sura 
2. Sapar 
3. Mulud 
4. Bakdomulud  
5. Jumadilawal 
6. Jumadilakhir 
7. Rejeb 
8. Ruwah 
9. Poso 
10. Sawal 
11. Dulkangidah 
12. Besar 

Siklus kedelapan Tahun Jawa (orisinil Jawa), adalah tahun, terdiri dari 8 tahun:
1. Alip 
2. Ehe 
3. Jimawal 
4. Je  
5. Dal  
6. Be 
7. Wawu 
8. Jimakir

Siklus kesembilan adalah Windu atau siklus 8 tahunan (orisinil Jawa),:
1. Adi (Linuwih) 
2. Kuntara (Ulah) 
3. Sengara (Panjir) 
4. Sancaya (Sarawungan) 

Siklus kesepuluh adalah Lambang umurnya 8 tahun terdiri dari 2 (orisinil Jawa):
1. Lambang Langkir.
2. Lambang Kulawu.

Siklus kesebelas disebut Kurup yang berumur 15 windu atau 120 tahun terdiri dari 7 kurup (menurut tanggal 1 Suro tahun Alip) :
1. Senen (Isananiyah) 
2. Selasa (Salasiyah) 
3. Rebo (Arbangiyah) 
4. Kemis (Kamsiyah) 
5. Jemuah (Jamngiyah) 
6. Setu (Sabtiyah) 
7. Akad (Akdiyah)

Pada tahun 1855 Masehi, karena penanggalan lunar atau bulan (Komariyah) dianggap tidak memadai untuk patokan agraris para petani yang bercocok tanam, maka bulan-bulan musim pada tahun Solar atau matahari (Syamsiyah) atau disebut Pranata Mangsa oleh Mangkunegara IV penggunaannya ditetapkan secara resmi. Pranata mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan sejak jaman pra-Islam.

Siklus keduabelas yaitu Mangsa (musim) yang berlaku di Jawa menurut pemahaman ini dibagi menjadi 4 musim utama yaitu:
1. Musim hujan (Rendeng)
2. Musim pancaroba (Mareng / Kemareng)
3. Musim kemarau (Ketiga)
4. Musim menjelang hujan (Labuh)

Ke-4 musim di atas dibagi-bagi lagi menjadi 12 Pranata mangsa atau sub-musim (yang menjadi siklus ketigabelas), dibuat berdasaarkan pola agraris dengan ciri-ciri komoditas dominan pada saat tersebut yaitu:
1. Mangsa Kasa atau mangsa kartika dimulai 21 Juni (41 hari)
2. Mangsa Karo atau mangsa pusa mulai 2 Agustus (23 hari)
3. Mangsa Katelu mulai 25 Agustus (24 hari)
4. Mangsa Kapat mulai 19 September (25 hari)
5. Mangsa Kalima mulai 14 Oktober (27 hari)
6. Mangsa Kanem mulai 10 Nopember (43 hari)
7. Mangsa Kapitu 23 Desember (43 hari)
8. Mangsa Kawolu 4 Pebruari (26 hari-27 hari saat tahun kabisat)
9. Mangsa Kasongo mulai 1 Maret (25 hari)
10. Mangsa Kasepuluh (Srawana) mulai 26 Maret (25 hari)
11. Mangsa Dastha (Padrawana) mulai 19 Apri (23 hari)
12. Mangsa Sada/Saya (Asuji) mulai 12 Mei (41 hari)

Sedikit catatan: 
Siklus disebut juga Wara atau Wewaran
Selain itu ada tiga siklus yang sudah jarang atau bahkan tidak dipakai di Jawa, kecuali di Bali dan Tengger, Bromo seperti:
1. Siklus 2 harian (Dwiwara): 
1. Menga (terbuka)
2. Pepet (tertutup).

2. Siklus 3 harian (Triwara) harinya: 
1. Kajeng
2. Pasah
3. Beteng
Siklus 3-harian ini adalah perubahan posisi bulan mengelilingi bumi. Setiap lima kali siklus triwara akan terjadi purnama.
 
3. Siklus 4 harian (Caturwara) harinya: 
1. Jaya
2. Menala
3. Sri
4. Laba

4. Siklus 10 harian (Dasawara) harinya: 
1. Pandita  
2. Pati 
3. Suka 
4. Duka 
5. Sri 
6. Manuh 
7. Manusa 
8. Raja 
9. Dewa 
10. Raksasa

Oops banyak ya? 
Jadi gak salah kalau benda-benda langit diciptakan untuk orang-orang yang berpikir, kalau mau tahu siklus hari ini klik saja link ini

Tulisan terkait



Referensi
Bataljemur Adammakna
Kalender Jawa di Babadbali.com
Bausastra
Wikipedia


Foto-foto didapat dari grup Yahoogroups, kredit milik fotografernya.
Foto senja milik pribadi.

sedikit tentang desa adat tarung

Well, Senangnya mendarat lagi di bandara Tambolaka (TMC) di Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur setelah terbang dengan Fokker 100, sempat mampir di bandar udara Ngurah Rai (DPS) dari bandar udara Juanda Surabaya (SUB). Tidak seperti tahun lalu Sumba sekarang sudah mekar menjadi 4 kabupaten Sumba Timur dengan Waingapu sebagai ibukotanya, Sumba Tengah dengan ibukota Waibakul, Sumba Barat tetap beribukota di Waikabubak dan Sumba Barat Daya (SBD) beribukota di Tambolaka.





Kali ini, ada satu hal yang pengen banget saya kunjungi dan catat adalah tentang Desa adat Tarung di Waitabar, Desa adat tempat tinggal suku Loli ini terletak diatas bukit dikelilingi batu-batu besar tak jauh dari pusat ekonomi Waikabubak. Bagi suku Loli desa Tarung tidak hanya merupakan tempat tinggal, tetapi juga berfungsi sebagai institusi sosial dan keagamaan.



Tata letak desa ini terdiri dari rumah-rumah (Uma) yang memanjang dibagian tengah perumahan terdapat kuburan megalitik atau makam dari batu yang disebut Waruga. Tata letak tersebut menjadi simbol kosmologi lokal.

tarung village

Arsitektur vernakular yang menjadi pencakar langit di Desa Tarung adalah Uma atau rumah adat Sumba dengan struktur segi empat, di atas panggung yang ditopang tonggak-tonggak kayu. Umumnya rumah adat dibangun dengan kerangka utama tiang turus (Kambaniru Ludungu) sebanyak 4 batang, dan 36 batang tiang (kambaniru) berupa struktur portal dengan sambungan pen umunya memakai kayu mosa, kayu delomera, dan kayu masela. Sedang sambungan atap memakai ikatan baik dengan usuk maupun penutup atap dari ilalang (Imperata cylindrica).
Sistem struktur yang sederhana ini berkaitan dengan tidak dikenalnya alat pertukangan selain parang dan kampak karena orang Sumba baru mengenal logam ketika Portugis mampir kesana.


Rumah adat ini terdiri dari tiga bagian:
  1. Toko Uma (bagian atap) berbentuk kerucut seperti menara dari ilalang biasa digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka Marapu dan pada beberapa rumah ada yang digunakan untuk menyimpan hasil panen.
  2. Bei Uma (ruang hunian) Ruang-ruang ini tidak menyentuh tanah. Pada ruang dalam dulu dibedakan ruang akses utntuk pria dan wanita. ruang hunian berlantai bambu, dengan beranda luas atau teras pada sisi depan atau sampingnya disebut juga bangga tempat bermusyawah para pria.
  3. Kali Kabunga (kolong rumah) digunakan sebagai kandang ternak, seperti kambing, babi, bahkan kuda, atau kerbau.

Sedikit catatan: Selain Uma untuk kepentingan diatas, ditempat lain ada Uma-uma untuk tujuan lain, seperti:
  • Uma Bokulu adalah rumah besar tempat bermusyawarah adat.
  • Uma Jangga adalah rumah tinggi bertingkat tempat memelihara ternak kuda dan babinya dikolong rumah.
  • Uma Ndewa adalah rumah keramat pemujaan marapu atau roh leluhur yang tidak dipergunakan sebagai tempat tinggal.
Tulisan terkait :

  • Foto merupakan koleksi pribadi
  • Terimakasih untuk drg. Wahyu Nurahmad dan drg. Yuni Indarti - Juga Selamat menempuh hidup baru
  • Foto satelit Waikabubak diambil dari Google maps

museum kereta api

Baru saja mengunjungi Museum kereta Api di Ambarawa, sekitar 40km dari Semarang, Okay ini tak copy and paste ceritanya 😀
Ambarawa sejak jaman Hindia Belanda merupakan daerah militer, sehingga Raja Willem I berkeinginan untuk mendirikan bangunan Stasiun Kereta Api, guna memudahkan mengangkut pasukannya untuk menuju Semarang.
Maka pada tanggal 21 Mei 1873 dibangunlah Stasiun Kereta Api Ambarawa dengan luas tanah 127.500 m2. Masa kejayaan Stasiun Ambarawa yang lebih dikenal dengan sebutan WILLEM I dihentikan pengoperasiannya sebagai Stasiun Kereta Api dengan jurusan Ambarawa-Kedungjati-Semarang, Demikian pula untuk lintas Ambarawa-Secang-Magelang juga Ambarawa-Temanggung pada tahun 1976. Dengan ditutupnya Stasiun KA Ambarawa, maka pada tanggal 8 April 1976 Gubernur Jawa Tengah Supardjo Rustam bersama Kepala PJKA Eksplotasi Soeharso memutuskan Stasiun Ambarawa menjadi Museum Kereta Api, dengan mengumpulkan 21 buah lokomotif yang pernah andil dalam pertempuran khususnya mengangkut Tentara Indonesia.

Museum Kereta Api Ambarawa adalah satu-satunya museum berteknologi kuno digunakan sebagai alat transportasi sejak sebelum kemerdekaan Indonesia sampai dengan 1964. Dalam museum ini terdapat 21 lokomotif uap yang berada di utara dan barat  museum, 5 lokomotif uap yang berada di depo 3 diantaranya dapat beroperasi dengan baik, selain itu terdapat pula 3 mesin hitung, 3 mesin ketik, beberapa pesawat telepon dan peralatan kuno lainnya.

Selain Museum Stasiun Ambarawa juga memiliki Lokomotif tua yang masih sanggup untuk mendaki pegunungan dengan kereta bergigi, salah satu kereta api bergigi di Indonesia yang dengan gagahnya mampu berjalan dalam kemiringan 30  /ml menuju stasiun Bedono yang berjarak 9 km ditempuh dalam waktu 1 jam dan berkapasitas 80 orang. Wisatawan bisa menikmati panorama di sepanjang perjalanan yang sangat mempesona. Gunung Ungaran, Gunung Merbabu yang menjulang tinggi serta hamparan Rawa Pening di bagian bawah merupakan pemandangan yang indah serta mengasyikkan.
Museum ini menyediakan 3 paket khusus wisata yang dinamakan "Railway Mountain Tour".
Wisatawan dapat menikmati pemandangan alam Ambarawa dan desa sekitarnya dengan naik kereta api uap bergigi atau lori dengan permintaan.


Mau tahu tarifnya:
Tarif masuknya untuk dewasa Rp3.000 sedang untuk anak-anak Rp2.000 per anak. Untuk kereta api bergerigi Ambarawa-Bedono Rp 3.250.000 untuk 80 orang, sedang Lori dari Ambarawa-Tuntang cukup Rp 10.000 yang berkapsitas 15orang.
Dari rute Ambarawa-Tuntang ini anda dapat melihat panorama rawa pening lho...

Dekat dengan museum kereta api Ambarawa :
  1. Curug Lawe dan Curug Benowo
  2. Rawa Pening
  3. Kuliner Ungaran
  4. Kuliner malam di Semarang 

Terimakasih sudah berkomentar