Kalau kita membayangkan gunung api yang sedang meletus, gambaran yang paling mudah muncul di kepala biasanya adalah sungai lava merah menyala yang mengalir menuruni lereng.
Indah, sekaigus mengerikan.
Tetapi justru di situlah kita sering salah memahami bahaya gunung api.
Dalam banyak letusan besar yang menewaskan manusia, lava pijar bukan pembunuh utamanya, karena gunung api memiliki jauh lebih banyak cara untuk membunuh.
Ia dapat membunuh dengan awan panas yang bergerak sangat cepat.
Dengan batu yang dilemparkan seperti peluru.
Dengan abu yang membuat atap runtuh.
Dengan gas yang tidak terlihat.
Dengan lumpur yang mengalir seperti beton cair
Dengan getaran gempa yang meruntuhkan baja dan beton.
Dengan longsoran gunung yang tiba-tiba runtuh.
Dengan ombak tsunami.
Bahkan dengan mengubah iklim, menyebabkan kelaparan dan penyakit ribuan kilometer dari sumber letusan.
Gunung api sebenarnya adalah sebuah sistem energi yang dapat melepaskan panas, tekanan, material padat, gas, air dan gravitasi dalam waktu yang sangat singkat.
Dan dari semua mekanisme itu, salah satu yang paling menakutkan adalah:
1. Arus Densitas Piroklastik/PDC
Senjata utama bukan lava, tapi panas.
Dalam istilah modern, kelompok bahaya ini banyak masuk ke dalam satu keluarga besar yang disebut:
Pyroclastic Density Current (PDC)
atau secara sederhana: arus densitas piroklastik.
PDC adalah campuran panas dari gas vulkanik, abu dan fragmen batuan yang bergerak menuruni lereng dengan kecepatan tinggi.
PDC bukan sekadar “awan asap”. Ia adalah arus material panas yang bergerak sebagai satu sistem, dengan bagian yang lebih padat dan bagian yang lebih encer/turbulen.
Karena itu para vulkanolog membedakan beberapa bentuknya, antara lain:
- pyroclastic flow,
- pyroclastic surge,
- block-and-ash flow,
- bentuk-bentuk PDC lain.
Istilah yang sering kita dengar di Indonesia: awan panas guguran atau wedhus gembel.
Suhu PDC sangat bervariasi, tetapi dapat mencapai ratusan derajat Celsius. Kecepatannya juga sangat bervariasi dan dapat melampaui 80 km/jam, bahkan jauh lebih cepat pada arus tertentu.
Artinya: manusia bukan hanya berhadapan dengan panas.
Ia berhadapan dengan panas + gas + abu + batu + kecepatan + tekanan dinamis.
Itulah kombinasi yang membuatnya begitu mematikan.
PDC memiliki energi mekanik sangat besar yang dapat: menghantam manusia, merobohkan bangunan, menyeret kendaraan, mengubur kota, menyebabkan luka bakar, memenuhi paru-paru dengan abu panas, dan membuat manusia tidak sempat bereaksi.
2. Pyroclastic flow
Bukan sungai lava, tetapi arus batu dan gas panas. Pyroclastic flow adalah bagian PDC yang relatif lebih padat. Bayangkan sebuah longsoran yang tersusun dari:
batu + pumice + abu + gas panas
yang bergerak sangat cepat menuruni lereng. Arus seperti ini dapat mengikuti lembah, menghancurkan bangunan, menumbangkan pepohonan dan mengubur apa pun yang berada di jalurnya.
Suhu dapat berada pada kisaran ratusan derajat Celsius, namun yang membuatnya berbahaya bukan hanya suhunya.
3. Pyroclastic surge
Pyroclastic flow dan pyroclastic surge bukan dua fenomena yang selalu dapat dipisahkan secara sederhana.
Keduanya merupakan bagian dari spektrum PDC. Secara umum, surge lebih encer dan lebih turbulen daripada flow.
Karena densitasnya lebih rendah, bagian surge dapat menyebar lebih luas dan memasuki ruang-ruang yang tidak mudah dijangkau oleh aliran yang lebih padat.
Inilah yang membuatnya sangat berbahaya bagi kota : Lapangan bangunan, lorong, bahkan ruangan yang tampaknya tertutup.
PDC yang encer ini dapat menyusup melalui bukaan dan celah bangunan.
Bersembunyi di dalam rumah bukanlah jaminan keselamatan jika rumah tersebut berada di jalur PDC.
Kota Romawi kuno ini terletak sekitar 7 km dari Vesuvius. Pada letusan tahun 79 M, kota ini dihantam oleh beberapa pulsa PDC.
Penelitian terhadap korban menunjukkan bahwa sebagian material panas yang pertama mencapai Herculaneum memiliki temperatur sekitar 500°C, sementara material berikutnya dapat terendapkan pada temperatur yang lebih rendah.
Korban yang ditemukan di area boat sheds memberikan bukti mengerikan tentang apa yang dapat dilakukan panas ekstrem terhadap tubuh manusia.Tulang mengalami perubahan warna dan rekahan.
Gigi dapat mengalami kerusakan termal. Tengkorak mengalami kerusakan akibat tekanan termal.
Dan pada satu korban ditemukan sesuatu yang hampir tidak masuk akal:jaringan otak yang berubah menjadi kaca hitam. Tahun 2020, penelitian terhadap material hitam mengkilap di dalam tengkorak korban Herculaneum menunjukkan bahwa material tersebut memang merupakan jaringan otak manusia yang mengalami vitrifikasi.
Jaringan organik manusia mengalami transformasi menjadi material seperti kaca akibat pemanasan ekstrem yang sangat cepat, kemudian mengalami pendinginan cepat. Ini adalah bukti material bahwa panas dari letusan benar-benar mencapai suhu ekstrem dan berlangsung sangat cepat. Pada kondisi tertentu, kematian terjadi begitu cepat sehingga tubuh tidak sempat mengalami respons fisiologis yang panjang.
Foto-foto korban Pompeii sering memperlihatkan manusia dengan tangan dan kaki menekuk. Bentuk ini dikenal sebagai: pugilistic posture. Dulu orang sering membayangkannya sebagai posisi seseorang yang sedang melindungi dirinya. Tetapi secara forensik, interpretasinya jauh lebih menarik. Panas menyebabkan jaringan dan protein otot mengalami perubahan. Otot tertentu mengalami penyusutan lebih kuat sehingga anggota tubuh tertarik ke posisi fleksi. Karena bentuknya menyerupai seorang petinju, muncullah istilah:pugilistic posture. Jadi posisi tersebut tidak bisa langsung dibaca sebagai “orang sedang melawan panas”.
Ia terutama merupakan efek termal pada tubuh. Dan menariknya, tidak semua korban PDC menunjukkan posisi tersebut.
Pada panas yang sangat ekstrem dan sangat cepat, jaringan lunak justru dapat hilang begitu cepat sehingga pola “petinju” tidak sempat terbentuk dengan jelas.
Pompeii memberikan cerita yang berbeda. Kota ini sekitar 9 km dari Vesuvius. Ketika letusan 79 M dimulai, Pompeii terlebih dahulu mengalami hujan material vulkanik.
Bukan langsung awan panas. Selama fase Plinian, kota mengalami hujan: pumice > lapili > abu > dan material vulkanik lainnya.
Fase jatuhnya pumice berlangsung sekitar 18 jam dalam rekonstruksi stratigrafi klasik.
Karena penduduk memiliki waktu. Sebagian besar kemungkinan berhasil meninggalkan kota. Tetapi tidak semuanya. Material yang terus menumpuk akhirnya membebani atap.
Dalam studi terhadap korban Pompeii, ratusan korban ditemukan dalam lapisan jatuhan pumice awal dan sebagian besar korban fase ini diperkirakan meninggal terutama akibat runtuhnya struktur bangunan. Kemudian datang fase yang jauh lebih mematikan: PDC. Pada fase inilah arus panas dan abu masuk ke kota.
Korban yang masih bertahan kemudian terkena arus piroklastik.
Jadi Pompeii sebenarnya adalah rangkaian bencana bertahap:
hujan pumice > bangunan mulai runtuh > kota menjadi gelap dan sulit dilalui > penduduk berusaha melarikan diri > kemudian PDC memasuki kota.
4. Hujan Abu
Abu vulkanik sering diremehkan karena tidak terlihat seperti lava. Padahal abu adalah salah satu bahaya vulkanik yang paling luas penyebarannya.
Partikel abu sangat kecil sehingga dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer.
Abu dapat:
- mengganggu pernapasan,
- mengiritasi mata,
- mencemari air,
- merusak mesin,
- mengganggu listrik,
- mengganggu penerbangan,
- merusak tanaman,
- dan ketika menumpuk tebal, membebani atap hingga runtuh.
Dalam beberapa letusan, manusia tidak mati karena panas. Mereka mati karena:
atap rumah yang tidak sanggup menahan beban abu. Abu adalah material batuan yang sangat halus. Ketika jumlahnya mencapai angka ton di atas sebuah atap, ia berubah menjadi beban struktural yang serius.
5. Lapili dan Bom Vulkanik
Gunung api dapat menembakkan “peluru”. Material vulkanik tidak semuanya berupa abu.
Fragmen berukuran:
- <2 mm: abu,
- sekitar 2–64 mm: lapili,
- > 64 mm: blok atau bom vulkanik.
Bom vulkanik dapat terlontar dari kawah dalam kondisi panas atau bahkan masih sebagian cair. Jika manusia berada terlalu dekat dengan kawah, benda ini pada dasarnya adalah: proyektil batu yang ditembakkan oleh gunung api.
Karena itu zona dekat kawah sangat berbahaya bahkan ketika tidak terlihat adanya lava yang mengalir.
6. Gas Vulkanik
Gunung api juga membunuh lewat gas-gas vulkanik yang penting antara lain:
CO₂ : karbon dioksida
SO₂ : sulfur dioksida
H₂S : hidrogen sulfida
HF : hidrogen fluorida
serta berbagai gas lain termasuk hidrogen halida.
- CO₂ : Ia tidak berwarna dan idak berbau. Pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan manusia kehilangan kesadaran dan mati lemas. Karena CO₂ lebih berat daripada udara, gas ini dapat terkumpul di tempat rendah: lembah, kawah, gua, cekungan, atau daerah tertentu di sekitar sumber gas.
- SO₂ : Gas ini dapat sangat mengiritasi mata dan saluran pernapasan. Dalam jumlah besar, gas vulkanik dapat menjadi bahaya kesehatan yang serius.
- HF : Gas mencemari rumput yang dimakan ternak sehingga banyak ternak mati keracunan fluor (fluorosis)
Kadang-kadang yang membunuh justru sesuatu yang tidak terlihat.
Kawah Sinila menjadi sangat mematikan pada 20 Februari 1979, Menurut laporan yang dirujuk BPBD Jawa Tengah, 149 orang meninggal dunia.
7. Lahar
Gunung api dapat membunuh jauh setelah letusan berhenti. Ini salah satu bahaya yang sangat penting untuk Indonesia.
Lahar bukan lava. Kata ini berasal dari bahasa Jawa dan telah diadopsi ke dalam literatur geologi dunia sebagai "lahar".
Lahar adalah aliran campuran air dengan material vulkanik—abu, pasir, kerikil, batu dan material lain yang bergerak seperti debris flow.
Sumber airnya bisa berasal dari: hujan deras, sungai, danau kawah, pencairan salju/es, atau air yang bercampur dengan material erupsi.
Karena itu lahar dapat terjadi: ketika letusan sedang berlangsung maupun setelah letusan selesai. Dan bahayanya bisa jauh dari gunung. Lahar mengikuti lembah dan sungai.
Itulah sebabnya seseorang yang relatif jauh dari kawah masih dapat meninggal akibat gunung api.
Contoh paling tragis adalah: Nevado del Ruiz, Kolombia, 1985. Letusan relatif kecil VEI 3, tetapi material vulkaniknya memicu lahar besar yang mencapai kota Armero. Sekitar 25.000 orang meninggal.
Dalam daftar letusan paling mematikan sejak 1500 M, USGS menempatkan Nevado del Ruiz sebagai salah satu contoh utama bahwa lahar dapat menjadi pembunuh utama, bahkan lebih jauh dari sumber letusan.
8. Longsoran Dan Debris Avalanche
Sebuah gunung api pada dasarnya adalah bangunan raksasa yang dibangun dari:
lava, abu, breksi, batuan, dan material yang sering kali sudah mengalami alterasi hidrotermal.
Sebagian material tersebut dapat menjadi lemah. Jika bagian tubuh gunung runtuh, jutaan bahkan miliaran meter kubik material dapat bergerak dalam waktu sangat singkat.
Fenomena ini disebut: debris avalanche atau longsoran/debris avalanche vulkanik.
Kecepatannya dapat sangat tinggi dan volumenya dapat luar biasa besar.
Contoh terkenal adalah runtuhnya flank gunung api yang dapat menghasilkan tsunami bila material tersebut masuk ke laut.
Jadi bahaya gunung api sebenarnya juga merupakan bahaya: gravitasi.
Gunung Unzen, Jepang (1792) akibat runtuhnya kubah lava Mayuyama di kompleks Unzen runtuh menjadi debris avalanche.
Longsoran masuk ke laut dan memicu tsunami besar. Bencana gabungan ini menewaskan sekitar 15.000 orang, menjadikannya salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah
9. Tsunami Vulkanik
Ketika gunung api membunuh orang yang bahkan tidak melihat gunungnya
Gunung api yang berada di laut atau dekat laut memiliki satu senjata tambahan: tsunami.
Tsunami vulkanik dapat terbentuk melalui beberapa mekanisme:
runtuhnya tubuh gunung api > runtuhnya kaldera > longsoran material ke laut > pyroclastic flow yang masuk ke laut > ledakan bawah laut > bahkan kombinasi beberapa mekanisme tersebut.
Contoh paling terkenal: Krakatau 1883 yang bukan sekadar cerita tentang suara ledakan yang terdengar sangat jauh.
Letusan dan keruntuhan edifice Krakatau menghasilkan: abu, PDC, perubahan bentuk gunung, dan tsunami besar.
Lebih dari 36.000 orang meninggal, dan sebagian besar korban dikaitkan dengan tsunami yang menghantam pesisir Jawa dan Sumatra. Mayoritas korban Krakatau bukan dibunuh lava. Mereka dibunuh oleh: air laut yang digerakkan oleh proses vulkanik. Ini penting sekali untuk Indonesia karena contoh tersebut bukan cerita dari tempat yang jauh. Krakatau berada di Selat Sunda.
10. Ledakan Hidrotermal
Air tanah yang dipanaskan oleh sistem panas bumi dapat berubah menjadi uap bertekanan. Jika tekanan dilepaskan secara tiba-tiba, terjadi ledakan. Material batuan dapat terlempar. Gas dan uap panas dapat menyebar. Dan ledakan tersebut dapat terjadi bahkan tanpa adanya magma baru yang mencapai permukaan.
Sistem hidrotermal sendiri sudah cukup untuk menghasilkan kejadian eksplosif.
Erupsi Gunung Ontake, Jepang, pada erupsi phreatic/hidrotermal tahun 2014 membunuh 63 orang, sebagian besar pendaki yang berada dekat puncak saat ledakan terjadi.
11. Gempa Vulkanik
Gunung api tidak hanya melepaskan energi dalam bentuk letusan, tetapi juga melalui gempa bumi. Pergerakan magma, perubahan tekanan fluida, rekahan batuan, serta keruntuhan struktur gunung dapat menghasilkan aktivitas seismik.
Bahaya yang lebih besar sering muncul ketika energi seismik tersebut menjadi pemicu bagi proses lain: longsoran, runtuhan struktur bangunan, perubahan kestabilan lereng, atau bahkan rangkaian proses yang kemudian menghasilkan tsunami. Karena itu, dalam sebuah bencana gunung api, gempa tidak selalu menjadi “senjata terakhir”; ia dapat menjadi pemicu yang mengubah satu bentuk energi menjadi bentuk bahaya yang lain.
Serangkaian gempa vulkanik terjadi selama aktivitas Gunung Unzen. Pada 21 Mei 1792, gempa kuat memicu runtuhnya kubah lava Mayuyama.
Runtuhan tersebut menimbulkan longsoran raksasa dan tsunami besar. Total korban diperkirakan sekitar 15.000 jiwa
12. Lava pijar
Dalam vulkanologi lava pijar adalah pembunuhan di ranking bawah, bukan karena tidak panas, tapi karena biasanya larinya pelan
Lava bisa membunuh saat lava masuk laut atau danau.
Di Hawaii dan Iceland, lava 1.100°C berketemu air laut langsung meledak dinamakan littoral explosion. Lemparan batu panas dan uap asamnya yang membunuh, bukan lavanya sendiri.
Erupsi Nyiragongo tahun 1977, menurut Smithsonian Global Volcanism Program pada laporan Maret 1977 melaporkan sekitar 70 orang tewas akibat aliran lava yang mengalir cepat.
13. Perubahan Iklim
Erupsi gunung berapi bisa menyebabkan bahaya perubahan iklim karena melepaskan gas dan partikel abu ke atmosfer. Partikel ini dapat menghalangi sinar Matahari sehingga suhu Bumi sementara menjadi lebih dingin, sedangkan beberapa gas seperti karbon dioksida (CO₂) dapat berkontribusi pada pemanasan dalam jangka panjang. Jadi, erupsi besar dapat mengganggu keseimbangan iklim dan cuaca.
Gunung Tambora (1815) dan Rinjani Purba/Samalas (1257) Letusannya sangat besar sehingga menyebabkan gagal panen di banyak wilayah dan memicu kelaparan. Tahun berikutnya bahkan dikenal sebagai "Tahun Tanpa Musim Panas".
14. Kelaparan dan Penyakit
Erupsi gunung berapi dapat menyebabkan kelaparan dan penyakit karena abu vulkanik merusak tanaman dan sumber air sehingga hasil panen berkurang, sementara udara dan air yang tercemar dapat memicu berbagai penyakit pada manusia dan hewan.
Korban akibat kelaparan dan wabah penyakit setelah letusan Tambora tahun 1815: sekitar 49.000-90.000 jiwa di Sumbawa, Lombok, dan Bali
Kalau seluruh pembahasan kita dirangkum, gunung api memiliki banyak senjata:.
- Pyroclastic Density Current : Panas + gas + abu + batu + kecepatan.
- Pyroclastic Flow : arus batu dan gas panas
- Pyroclastic Surge : Bagian lebih encer dan turbulen yang dapat menyebar dan memasuki bangunan.
- Abu Vulkanik : Dapat menyebabkan gangguan pernapasan, kerusakan infrastruktur, gagal panen dan runtuhnya atap.
- Lapili : Material berukuran lebih besar yang dapat melukai atau membunuh secara langsung.
- Bom Vulkanik : Proyektil batu panas yang terlontar dari kawah.
- Gas Beracun : CO₂, SO₂, H₂S dan gas vulkanik lainnya.
- Lahar : Campuran air dan material vulkanik yang dapat bergerak jauh mengikuti lembah dan sungai
- Longsoran / Debris Avalanche : Runtuhnya bagian gunung dalam volume sangat besar.
- Tsunami : Dapat dipicu oleh keruntuhan gunung api, longsoran, pyroclastic flow yang masuk ke laut, ledakan bawah laut dan mekanisme lainnya.
- Ledakan Hidrotermal : Ledakan uap air panas.
- Lava pijar : Lava panas yang meluncur deras.
- Dampak Iklim : Letusan besar dapat memasukkan aerosol sulfat ke atmosfer dan mengubah iklim untuk sementara.
- Kelaparan Dan Penyakit : Ketika pertanian hancur, air tercemar dan sistem pangan runtuh, manusia dapat terus meninggal jauh setelah gunung api berhenti meletus.
Gunung api tidak memiliki satu senjata. Ia memiliki sebuah sistem senjata alam yang bekerja dalam urutan dan kombinasi berbeda.
Ada yang mau menambahkan?
Tulisan terkait :
foto foto dibuat oleh muse ai
Posted in:
geo
|
|
|