Saat memgunduh file-file font untuk menambah perbendaharaan gaya tipografi, sering kita dapati berbagai macam ekstensi file font digital yang berbeda-beda.Ternyata perbedaan itu akibat font-font digital yang berkembang.


Sejarah font digital dimulai dari era bitmap di tahun 1960–1970-an, lalu berkembang ke outline berbasis vektor dengan PostScript (1984), TrueType (1991), OpenType (1996), hingga web fonts (2000-an) dan variable fonts (2016). Evolusi ini membuat tipografi semakin fleksibel, berkualitas tinggi, dan mudah diakses di berbagai platform.

  1. TrueType Font .ttf : Dikembangkan oleh Apple & Microsoft sejak akhir 1980-an. Standar paling umum dan universal (Windows, macOS, iOS, Unix/Linux/Android).
  2. Open Type Font .otf : Penerus TTF buatan Adobe & Microsoft. Mendukung fitur tipografi tingkat lanjut (seperti ligatures, variasi glyph, fractions, stylistic sets). ini adalah format dengan kualitas tipografi tertinggi untuk pencetakan dan desain profesional. Universal (Windows, macOS/iOS, Linux/Android).
  3. True Type Collection/Open Type Collection .ttc / .otc : Kumpulan (bundle) beberapa font TTF/OTF ke dalam satu file tunggal untuk menghemat ruang simpan. macOS/iOS, Windows, Unix/Linux/Android (sering dipakai oleh Apple).
  4. Web Open Font Format .woff : Versi kompresi TTF/OTF dalam format zlib yang dirancang khusus untuk website agar pemuatan (loading) halaman jauh lebih cepat. Didukung oleh semua OS modern dikembangkan oleh Mozilla dan W3C sejak 2009 (melalui browser di macOS,/iOS, Unix/Linux,/Android,  Windows).
  5. Web Open Font Format2 .woff2 : Generasi terbaru dari WOFF dengan kompresi yang jauh lebih tinggi menggunakan algoritma kompresi lBrotli yang lebih efisien dengan sekitar 30% lebih ringan dari WOFF1. Inii adalah standar utama web modern dikembangkan sejak 2018. Didukung oleh semua OS modern (melalui browser di macOS,/iOS,Windows, Unix/Linux,/Android).
  6. Embedded OpenType .eot : Format font buatan Microsoft khusus untuk Internet Explorer (IE). Sudah usang (obsolete) dan hampir tidak digunakan lagi.
  7. Scalable Vector Graphics Fonts  .svg .svgz : Format font berbasis vektor. Dulu sempat digunakan di iOS versi awal (iOS 4 ke bawah) dan web lama, sekarang sudah ditinggalkan (obsolete).
  8. PostScript Type 1 .pfb .pfm .pfa .afm : Format font jadul buatan Adobe untuk mesin cetak profesional. Adobe menghentikan pada 2023.
  9. Datafork TrueType  .dfont : Format font lama pada Apple macOS klasik. Sekarang mayoritas sudah digantikan oleh .ttf, .otf, atau .ttc.
  10. Variable Fonts, (Bukan ekstensi baru - tetap menggunakan .ttf atau .otf) : Variable Fonts adalah teknologi baru di mana satu file font bisa mencakup semua ketebalan (Thin, Light, Regular, Bold, Black) dan kemiringan secara fleksibel. Diperkenalkan tahun 2016 oleh Adobe, Apple, Google, dan Microsoft. Didukung penuh oleh macOS, iOS, Linux, Windows, serta semua browser modern.

Penggunaan font digital:
  • Desktop/Mobile (Windows, macOS, iOS, Linux, Android): mendukung penuh TTF, OTF, TTC, serta Variable Fonts.
  • Web: standar utamanya adalah WOFF & WOFF2.
  • Linux/Unix/Android: menggunakan FreeType secara bawaan (native) sehingga mendukung format TTF, OTF, TTC, WOFF, WOFF2.
  • Legacy font yang sudah ditinggalkan: EOT, SVG Fonts, Type 1, DFONT.

Ada yang mau menambahkan? 

Tulisan terkait :



Gambar-gambar ilustrasi dibuat oleh dalle3

#AdobeFonts #GoogleFonts #MyFonts #Fontspring #Linotype #Monotype

Sedikit tentang Gyotaku

Siapa bilang mendokumentasikan hasil tangkapan binatang laut tidak bisa menjadi barang seni? 
Nelayan Jepang kuno di jaman Edo sudah melakukannya dengan teknik gyotaku.

Cara mendokumentasikan ikan
Gyotaku berasal dari kata gyo (ikan) dan taku (cetakan).
Gyotaku yaitu teknik cetak ikan tradisional Jepang yang dilakukan dengan melumuri tinta pada tubuh ikan asli lalu menempelkan kertas atau kanvas untuk menghasilkan cetakan detail tekstur dari sisik, sirip, mulut dan bentuk ikan dengan ditekan. 
Seni ini awalnya dipakai nelayan jepang pada pertengahan abad ke-19 untuk mencatat ukuran dan jenis ikan hasil tangkapan, kemudian berkembang menjadi karya seni yang indah dan filosofis.


Filosofi di balik Gyotaku :
  • Menghormati kehidupan laut dengan tetap memanfaatkan ikan sebagai makanan setelah dicetak agar tidak terbuang sia-sia.
  • Menjadi simbol hubungan manusia dengan laut sebagai sumber kehidupan. 


Teknik Dasar Gyotaku
Teknik Klasik
- Metode langsung (Chokusetu-ho) : tinta sumi dioleskan langsung ke tubuh ikan, lalu kertas washi ditempel. 
- Metode tidak langsung (Kansetsu-ho) : kertas ditempel dengan pasta beras, lalu tinta ditepuk dari luar untuk kontrol warna lebih halus.  
Teknik  modern
- Seniman modern disamping mencetak tekstur dan bentuk ikan kemudian ditambahkan warna, latar artistik, atau detail kuas untuk mempercantik hasil.

perbandingan teknik klasik dan modern


Prinsip dasar tinta Sumi
  • Tinta sumi dibuat dari jelaga halus hasil pembakaran minyak atau getah pinus, dicampur dengan lem alami, lalu dikeringkan menjadi batang tinta padat. 
  • Sebelum digunakan, batang sumi digosok di atas batu tinta dengan sedikit air sehingga menghasilkan tinta cair pekat. 
  • Warna hitamnya memiliki nuansa abu-abu hingga hitam pekat, tergantung tekanan dan jumlah air yang memberi efek gradasi alami pada cetakan ikan. 
  • Tinta sumi menonjolkan tekstur alami ikan tanpa warna berlebihan sesuai filosofi wabi-sabi (keindahan dalam kesederhanaan). 
  • Setiap cetakan unik karena variasi tekanan dan kadar tinta yang menciptakan tampilan berbeda. 

Penerapan dalam Gyotaku
  1. Persiapan media: Kertas washi terbuat dari kozo (mulberry) digunakan sebagai media, dengan tinta sumi hitam pekat. 
  2. Persiapan Ikan: Ikan dibersihkan, dikeringkan, insang ditutup dan disusun agar bentuknya alami. 
  3. Dioles tinta: Tinta sumi diusap tipis di seluruh permukaan ikan menggunakan kuas lembut atau kain. 
  4. Dicetak: Kertas washi ditempel perlahan di atas ikan, ditekan lembut agar detail sisik dan sirip tercetak sempurna. 
  5. Finishing : setelah cetakan kering, seniman menambahkan kaligrafi nama ikan, tanggal, dan tanda tangan dengan kuas sumi. 

Seniman Gyotaku yang menonjol :
  • Sakai Tadayoshi : Daimyo dari Shōnai, yang membuat cetakan ikan crucian carp di Kinshi-bori, Edo, pada Februari 1839. Karya ini adalah gyotaku tertua yang masih ada dan isimpan di Tsuruoka City Local History Museum.
  • Kuwagata Keisai (1764–1824), seniman ukiyo‑e yang bereksperimen dengan cetakan ikan sebelum Gyotaku populer.
  • Nelayan-nelayan pada era Edo, Nelayan Jepang abad ke-19 menggunakan Gyotaku untuk mendokumentasikan hasil tangkapan, mereka menyempurnakan teknik mengatasi lendir ikan, menutup rongga tubuh, dan mengatur tekanan tinta agar cetakan bersih. 
  • Masatsu Matsunaga, Salah satu keluarga Matsunaga yang menjaga tradisi Gyotaku klasik.  
  • Dwight Hwang, Menggunakan teknik tradisional dengan tinta sumi dan kertas washi dengan fokus pada detail anatomi dan jiwa hewan laut.
  • Keisuke Matsunaga, menekankan disiplin waktu dimana tinta harus diaplikasikan dalam 30 menit agar cetakan tidak rusak. 
  • Elena Di Capita (Italia).
  • Nadia Auleta (Italia).

Perkembangan modern :
  • Kini Gyotaku dipajang di galeri seni, museum, hingga rumah pribadi.
  • Digunakan sebagai media edukasi tentang keanekaragaman hayati laut dan pelestarian lingkungan.
  • Banyak seniman kontemporer menggabungkan Gyotaku dengan tipografi, neon art, atau media digital untuk gaya modern.  

Ada yang mau menambahkan? 

Tulisan lain :



<
>
foto foto dari duckduckgo, kredit milik seniwan gyotaku dan fotografernya.

Suatu ketika kami pernah mengikuti sayembara desain label minuman klasik, saat itu banyak kandidat juara yang menggunakan teknik engraving. 


Teknik engraving sering dipakai pada ilustrasi, komik, tatto, prangko dan tentu saja uang kertas (bank notes), Teknik ini :

  • perlu konsentrasi tinggi 
  • sulit dikoreksi
  • memerlukan waktu yang lama sehingga harus benar-benar sabar.


Apa itu hatching, cross hatching dan engraving

  • Hatching adalah teknik menggambar garis sejajar satu arah menggunakan pensil, tinta, atau media kering untuk memberi kesan bayangan atau tekstur sederhana pada gambar. 
  • Cross Hatching adalah menggambar garis berpotongan manual (misalnya diagonal dan horizontal) dengan sudut berbeda, yang memberi kesan bayangan, tekstur dan efek 3D.
  • Engraving secara harfiah berarti menggores. Jadi, engraving adalah proses menggores atau mengukir permukaan media biasanya pada media logam (metal engraving) dan kayu (wood engraving) . Dalam konteks seni grafis, istilah ini berarti cara visual dari hasil menggores/mengukir/gravir yang menjadi fondasi visual dalam seni cetak seperti engraving, etching, dan woodcut. Hatching dan cross hatching sering disebut teknik engraving karena keduanya merupakan metode garis yang digunakan dalam seni grafis cetak (engraving, etching, woodcut) untuk menciptakan ilusi volume, cahaya, bayangan, gradasi, tekstur, dan ilusi kedalaman 3 dimensi hanya dari arsir lewat kepadatan dan arah garis saja.

Hatching adalah gaya garisnya, sedangkan engraving adalah teknik produksinya.

Fungsi visual hatching dan cross hatching :

  • Ilusi kedalaman : Area dengan garis rapat tampak lebih gelap dan jauh, sedangkan area jarang tampak terang dan dekat.
  • Tekstur dan detail : Cross hatching memungkinkan variasi tekstur, dari kulit manusia hingga lekuk-lekuk kain.
  • Efek 3D : Dengan lapisan silang, seniman bisa menciptakan kesan optis kekasaran dan kedalaman tiga dimensi pada permukaan datar sebuah gambar. 

Asal usul awal engraving :

  • Bukti tertua engraving prasejarah berusia sekitar 540.000 –430.000 tahun. Ditemukan pada cangkang alat Homo erectus di Trinil, Jawa, 
  • Di 60.000 SM  di Afrika Selatan, kulit telur burung unta aebagai wadah air yang berukir.
  • Zaman Paleolitik, ukiran pada tulang,  wasgading, dan batu menjadi bagian penting dari ekspresi seni manusia.
  • Abad pertengahan : Teknik hatching mulai digunakan dalam manuskrip dan ilustrasi.
  • Abad ke‑15 (Renaisans) di Jerman & Italia. Engraving mulai digunakan pada pelat tembaga untuk mencetak gambar di atas kertas. 
  • Abad ke‑18 hingga abad ke‑20, engraving baja digunakan untuk pencetakan uang kertas dan dokumen keamanan (security papers).
  • Teknik gambar pada uang kertas (banknotes) itu sebenarnya engraving (ukiran/gravir), bukan sekadar hatching (arsiran) karena dihasilkan oleh garis-garis yang sangat halus, detail, dan sulit ditiru (sulit dipalsukan), dibuat dengan teknik intaglio engraving (cetak dalam), yang menggunakan prinsip garis-garis hatching dalam bentuk ukiran fisik pada pelat logam atau kayu. 
  • Uang kertas yang pertama kali menggunakan hatching/engraving adalah Bank of England pada akhir abad ke-17. 
  • Penerapan engraving pada uang kertas berkembang serius setelah penemuan steel engraving oleh Jacob Perkins sekitar 1792–1819, lalu dipopulerkan oleh American Banknote Company sekitar 1840.

Saat ini teknik menggambar engraving yang presisi bisa menggunakan software komputer seperti:

  • Jura : lebih cocok untuk high-security engraving (dokumen resmi, uang, meterai, security papers lainnya).
  • Gravostyle/EngraveLab :  lebih praktis untuk industri umum (ukiran perhiasan, trofi, signage).
  • ArtCAM unggul di ukiran artistik 3D, meski secara resmi sudah tidak dikembangkan.
  • Adobe Photoshop/Ilustrator lewat Photoshop action-nya .pat bisa untuk membuat arsiran/ hatching yang rapi. 

Sedang jenis-jenis cetak dalam (intaglio)  :

  1. Engraving : Mengukir langsung di media dengan burin (pahat halus). karakter cetakan : Garis tegas, detail presisi. 
  2. Etching/etsa : Pelat logam dilapisi lilin atau resin atau bahan tahan asam, lalu digores, kemudian pelat dicelupkan ke dalam larutan asam, yang mengikis bagian yang terbuka sehingga terbentuk alur permanen. Setelah diberi tinta dan ditekan (press) hasilnya berupa garis cetakan yang tajam dan detail yang bisa direproduksi.
  3. Drypoint : Jarum baja runcing ditarik langsung di pelat. Karakter cetakan : Garis lembut, ada efek “burr” (serabut tinta). 
  4. Mezzotint : Pelat dibuat kasar dengan rocker, lalu dihaluskan bertahap. karakter cetakan : Gradasi halus, efek bayangan pekat. 
  5. Aquatint : Serbuk resin dipanaskan di pelat, lalu digigit asam. karakter cetakan : Efek tonal mirip cat air.

Seniman pionir engraving : 

  • Master ES, Martin Schongauer, Erhard Reuwich, dan Michael Wolgemut memperkenalkan hatching dalam ukiran.

Sedang seniman legend engraving :

  • Albrecht Dürer, Gustave Doré, Franklin Booth, Charles Dana Gibson.
Albrecht Durer : Four horsemen

Albrecht Dürer : Menjadi tokoh penting yang menyempurnakan cross hatching dalam engraving dan woodcut dalam menciptakan efek realistis.


Ada yang mau menambahkan?


Tulisan lain :

01. Sedikit tentang Mokuhanga 

02. Ilustrator Terkaya Sejagat

03. sedikit tentang gyotaku 



  • Gambar-gambar ilustrasi dari duckduckgo

Sedikit tentang Mokuhanga

Jauh sebelum kita mengenal komik Jepang ala manga anime ada seni visual menawan, dalam seni cetak Jepang. Teknik cetak kayu kuno ini bernama mokuhanga.
Salah genre dari teknik ini adalah ukiyo-e.
Ukiyo-e atau “gambar dunia yang mengambang” adalah cetakan satu lembar yang merekam wajah budaya sejak era Edo. Ukiyo-e menggambarkan wanita anggun, aktor kabuki, lanskap alam, dan kisah rakyat yang hidup dalam palet warna yang mempesona. 
Suzukawa - Shin-hanga - Yoshida Hirosi

Teknik woodblock Jepang atau mokuhanga punya sejarah panjang :
  1. Teknik ini berasal dari Dinasti Tang di Tiongkok (618-907 M). Pada proyek Hyakumantō Darani (764 M), Permaisuri Kōken / Permaisuri Shōtoku memesan satu juta pagoda kayu kecil, yang berisi gulungan blok kayu kecil yang dicetak dengan teks Buddha (Hyakumantō Darani). Abad ke-11, kuil-kuil Buddha mulai mencetak sutra dan mandala menggunakan teknik woodblock.
  2. Periode Kamakura (1185-1333 M): Pencetakan berkembang di kuil Kyoto & Kamakura untuk sutra dan mandala. Saga-bon: Buku klasik cetakan kayu oleh Honami Kōetsu & Suminokura Soan; cikal-bakal buku seni cetak Jepang.
  3. Periode Edo (1603–1868 M) Teknik Mokuhanga berkembang pesat pada era Edo, terutama cetakan seni ukiyo-e yang menjadi cermin kehidupan kota dan lanskap budaya. Seniman seperti Katsushika Hokusai dan Utagawa Hiroshige menciptakan karya-karya ikonik seperti The Great Wave off Kanagawa. Didukung oleh tingginya literasi, toko buku dan persewaan yang menjamur. Konten Buku: Panduan wisata, novel, drama Kabuki, seni, kuliner, roman dan komedi.  
  4. Abad ke-20 hingga kini: Meski teknologi cetak modern mendominasi, mokuhanga tetap hidup lewat gerakan shin-hanga dan sōsaku-hanga yang muncul di awal abad ke-20. Seniman seperti Hasui Kawase dan Hiroshi Yoshida menghadirkan lanskap Jepang yang realistik namun tetap menyimpan aura kontemplatif. Studio-studio seperti Adachi Institute dan Takezasado masih memproduksi ukiyo-e dengan metode tradisional, menjaga nyawa sejarah tetap berdenyut dalam karya kontemporer
Teknik khusus dalam Mokuhanga berbeda dengan teknik cetak barat yang menggunakan tinta berbasis minyak, mokuhanga memakai tinta berbasis air yang memberikan warna cerah, transparan, dan bernuansa lembut. 
Beberapa teknik khas yang memperkaya estetika ini adalah:
  • Bokashi: gradasi warna yang lembut dan natural
  • Karazuri: emboss tanpa tinta untuk efek tekstur
  • Kira-e: penggunaan mika berkilau untuk kemegahan visual

Genre mokuhanga :
  1. Ukiyo-e : Kehidupan sehari-hari, kabuki, wanita cantik dan pemandangan lansekap
  2. Shin-hanga : Gaya ukiyo-e dikombinasikan dengan realisme barat
  3. Sōsaku-hanga : Seniman mengerjakan seluruh proses mulai dari desain, ukir, dan cetak sendiri.
  4. Edo Mokuhanga : Fokus pada budaya populer dan ilustrasi buku pada era Edo.
  5. Nishiki-e : Cetakan multi-blok berwarna-warni, berkembang sejak 1760-an.
  6. Yūrei-e (gambar hantu) :Pada periode Edo, seniman seperti Tsukioka Yoshitoshi dan Utagawa Kuniyoshi membuat cetakan kayu bertema hantu (yūrei), iblis, dan kisah seram dari folklore Jepang.
  7. Shunga (erotika) : Secara harfiah berarti “gambar musim semi,” yaitu cetakan kayu erotis yang populer di abad ke-17 hingga ke-19.
  8. Zankoku-e (macabre) : yang berarti “gambar kejam/sadis.
  9. Mokuhanga kontemporer : Eksperimen dengan tema abstrak, sosial, atau lingkungan secara global.

Tokoh-tokoh Mokuhanga:
1. Hishikawa Moronobu (genre Ukiyo-e), di era Edo awal, dia adalah pelukis ukiyo-e pertama. 
Hisikawa Moronobu

2. Suzuki Harunobu (genre Ukiyo-e), di era Edo (1725–1770) dia adalah pelopor cetakan berwarna (nishiki-e).
Suzuki Harunobu

3. Katsushika Hokusai (genre Ukiyo-e), hidup di era Edo (1760–1849) Dengan menghasilkan sekitar 30.000 karya selama hidupnya dan The Great Wave off Kanagawa adalah master piece-nya.
The Great Wave off Kanagawa by Hokusai

4. Utagawa Hiroshige (genre Ukiyo-e), hidup di era Edo (1797–1858), The Fifty-Three Stations of the Tōkaidō adalah masterpiece-nya. 
Evening Snow at Kanbara oleh Utagawa Hiroshige

5. Hiroshi Yoshida (genre Shin-hanga), di abad ke-20, Lanskap-lanskap realistik menjadi cirinya.
Morning Mist in Taj Mahal Hiroshi Yoshida

6. Hasui Kawase (genre Shin-hanga), di abad ke-20, pemandangan alam Jepang.
Mount Fuji Seen by Hasui Kawase

7. Kōshirō Onchi (genre Sōsaku-hanga), di abad ke-20, seniman abstrak, pelopor sōsaku-hanga.
8. Efrat Arielle Peleg (genre Kontemporer) Eksplorasi budaya dan alam dengan mokuhanga modern.

Karya-Karya ikonik Mokuhanga :
1. The Great Wave off Kanagawa oleh Katsushika Hokusai, salah satu cetakan paling terkenal di dunia, menggambarkan ombak raksasa yang bergulung gulung dengan Gunung Fuji sebagai latar belakang.
2. Rain Shower at Shinagawa oleh Utagawa Hiroshige, bagian dari seri The Fifty-Three Stations of the Tōkaidō,  suasana hujan lembut yang melankolis.
3. Evening Snow at Kanbara oleh Utagawa Hiroshige, Lanskap bersalju yang sunyi, menggambarkan keheningan desa Jepang.
4. Fuji from Gotenyama oleh Hasui Kawase, Gaya shin-hanga yang memadukan realisme dan nuansa puitis, memperlihatkan Gunung Fuji di bawah cahaya senja.
5. Cetakan kontemporer oleh Karen Kunc dan Roslyn Kean Eksplorasi abstrak dan isu lingkungan dengan teknik mokuhanga tradisional yang tetap relevan secara global.

Media : 
  1. Kayu : kayu cherry karena teksturnya halus, tahan lama, dan cocok untuk ukiran presisi.
  2. Alat : Pisau ukir, pahat, dan sikat digunakan untuk ukiran detail dan pewarnaan merata.
  3. Kertas : Kertas Washi atau kertas tradisional Jepang dari serat tanaman; kuat dan menyerap tinta secara merata.
  4. Tinta dan Pewarnaan : Tiap warna dicetak dari balok berbeda, tinta diratakan dengan kuas lalu ditekan ke kertas secara manual. 

Proses cetak:
  1. Dimulai dari sketsa digambar di kertas washi (gampi).
  2. Ditempel di balok kayu cherry. pengukiran balok kayu untuk tiap warna. Ukiran dilakukan pada garis gambar.
  3. Pewarnaan manual memakai kuas dan ditekan dengan baren. 
  4. Pencetakan dilakukan satu per satu.
  5. Registrasi warna memakai tanda kento.
Prosesnya bukan dikerjakan oleh satu orang. Desainer membuat sketsa, pengukir balok kayu memahat tiap warna, dan pencetak memastikan gradasi dan komposisi sempurna. Tak jarang satu cetakan butuh hingga 30 balok berbeda! Hasilnya? Visual yang mendalam dan ekspresif.

Keunikan cetakan : 
Walau desain sama, tiap cetakan hasilnya berbeda karena proses manual dan tekanan tinta yang berbeda.

Ada yang mau menambahkan? 

Tulisan lain :



gambar gambar dari duckduckgo 


Di Jepang, ikan Tuna istimewa bukan hanya karena rasanya, tapi juga karena perjalanan sejarahnya, dari ikan pelagis biasa menjadi simbol kuliner mewah.  


Tuna punya sejarah panjang dan posisi istimewa, terutama di Jepang :
01. Zaman kuno: Tuna sudah ditangkap sejak ribuan tahun lalu di Mediterania dan Pasifik. Bangsa Fenisia dan Yunani kuno mencatat perburuan tuna besar.  
02. Jepang abad pertengahan: Tuna awalnya dianggap ikan “murahan” karena dagingnya cepat rusak. Di Edo (Tokyo) abad ke-17, tuna sering dijual murah atau bahkan dijadikan pupuk.  

03. Abad ke-19–20: Dengan berkembangnya teknik pendinginan, pengawetan, transportasi, dan pasca panen.  tuna mulai dihargai sebagai bahan makanan segar. seperti proses cakalang segar yang diolah menjadi katsuobushi
04. Abad ke-20 akhir: Bluefin tuna menjadi sangat populer di Jepang, terutama untuk sushi dan sashimi kelas atas. Pelelangan tuna di pasar Tsukiji/Toyosu menjadi simbol status dan tradisi kuliner.  

Dalam keluarga Scombridae (mackerel, tuna, bonito), tuna sejati berada di suku Thunnini. Jumlah spesies yang diakui adalah 15 spesies, terbagi dalam beberapa genus: Genus Katsuwonus (cakalang), Genus Euthynnus (tongkol), Genus Auxis, Genus Allothunnus dan Genus Thunnus atau Tuna sejati ada 8 spesies : Albacore (T. alalunga), Bigeye (T. obesus), Blackfin (T. atlanticus), Longtail (T. tonggol), Atlantic Bluefin (T. thynnus), Pacific Bluefin (T. orientalis), Southern Bluefin (T. maccoyii),Yellowfin (T. albacares).


Di Jepang ada enam varietas big tuna utama yang umum dijual dan dikonsumsi, masing-masing dengan harga dan profil rasa berbeda:
01. Kuromaguro atau Pacific Bluefin (Thunnus orientalis), Harga paling tinggi (rekor > ¥300 juta) untuk sushi premium, Dagingnya paling berlemak,  hidup di Pasifik Utara.



02. Honmaguro atau Atlantic Bluefin (Thunnus thynnus), Badannya paling besar & berotot. "Raja" semua tuna. 


03. Minamimaguro atau Southern Bluefin (Thunnus maccoyii), Mirip Honmaguro tapi badannya lebih bulat, Hidup di belahan selatan.


04. Mebachimaguro atau Bigeye Tuna (Thunnus obesus), Matanya besar karena hidup di laut dalam, bagian daging perut otoro-nya paling lumer untuk sushi dan sashimi.


05. Kihadamaguro atau Yellowfin Tuna (Thunnus albacares), Sirip punggung & perutnya kuning panjang, paling umum di pasar.


06. Binnagamaguro atau Albacore Tuna (Thunnus alalunga), sirip dadanya panjang seperti "sayap", dagingnya putih, harga terendah untuk sashimi dan ikan kaleng.


Rekor harga tuna
01. Pacific bluefin 2026 berat 243 kg harga 510,3 juta yen (~Rp 55 miliar) pembeli Kiyomura Corp. (Sushizanmai) 
02. Pacific bluefin 2025 berat 276 kg harga 207 juta yen (~Rp 29 miliar) pembeli Yamayuki K.K. & Onodera Group.
03. Pacific bluefin 2024 berat 238 kg harga 114,24 juta yen (~Rp 12,3 miliar) pembeli Yamayuki K.K. & Onodera Group  
04. Pacific bluefin 2023 berat 212 kg harga 36,04 juta yen (~Rp 3,8 miliar) pembeli Yamayuki K.K. & Onodera Group  
05. Pacific bluefin 2019 berat 278 kg harga 333,6 juta yen (~ Rp 43,7 miliar) pembeli Kiyomura Corp. (Sushizanmai) 
06. Pacific bluefin 2013 berat 222 kg Harga 155,4 juta yen (~Rp 16,8 miliar) pembeli Kiyomura Corp. (Sushizanmai) 

Mahalnya harga tuna lebih karena faktor prestisius. Pembelian oleh “Raja Tuna” Kiyoshi Kimura adalah bagian dari strategi branding untuk jaringan restoran Sushizanmai.

Tuna begitu spesial karena :
01. Rasa & tekstur unik: Tuna punya variasi daging dari merah segar (akami) hingga berlemak lembut (otoro). Satu ekor bisa menghasilkan profil rasa berbeda.  
02. Simbol kemewahan: Pacific Bluefin atau Kuromaguro dianggap puncak kualitas sushi. Harga bisa mencapai ratusan ribu dolar per ekor di pelelangan.
03. Budaya kuliner Jepang: Tuna menjadi ikon sushi modern. Popularitas sushi global ikut mengangkat status tuna.  
04. Ekonomi & tradisi: Pelelangan tuna di Tokyo bukan sekadar jual beli, tapi juga ritual budaya yang menunjukkan prestise restoran.  
Lelang tuna Toyosu

Bagian-bagian daging tuna 
01. Akami : Segar, ringan, bersih harga paling murah.
02. Chutoro : Seimbang, kaya, lembut harga menengah.
03. Otoro : Sangat berlemak, meleleh harga paling mahal.

Peta daging Tuna

Satu ekor tuna bisa menghasilkan pengalaman rasa yang sangat beragam. Dari potongan sederhana yang segar hingga potongan premium yang mewah, semuanya berasal dari ikan yang sama. 

Peta daging tuna 

Pelelangan tuna di pasar ikan Jepang begitu bergengsi, restoran berlomba mendapatkan tuna dengan kualitas otoro terbaik untuk menunjukkan prestise mereka.

Pasar Ikan Toyosu

Pasar-pasar ikan/tuna di Jepang:
01. Nihonbashi Market : Awal mula pasar ikan utama Tokyo sejak zaman Edo (abad ke-17). Terletak di Nihonbashi, pusat kota Edo (Tokyo lama). Namun hancur akibat gempa besar Kanto 1923, sehingga perlu dipindahkan.  
Pasar ikan Nihonbashi

02. Tsukiji Market didirikan tahun 1935, sebagai pengganti Nihonbashi. Terletak di distrik Tsukiji, dekat pusat Tokyo. Pelelangan tuna bluefin yang terkenal, sering jadi berita internasional karena harga fantastis. Bagian luar pasar penuh restoran kecil dan kios makanan laut segar. Walaupun ditutup tahun 2018, Namun area luar pasar masih hidup sebagai destinasi kuliner.  
Pasar ikan Tsuukiji

03. Toyosu Market, Dibuka pada Oktober 2018. Terletak di Toyosu, Tokyo Bay.  Punya fasilitas: modern, dengan sistem pendingin canggih dan ruang pelelangan higienis. Tradisi lelang tetap berlanjut, tetapi kini lebih tertutup dan higienis dibanding Tsukiji.  Menjadi pusat grosir ikan terbesar di dunia saat ini. 
Pasar ikan Toyosu

Psst, tahukah kalau Indonesia adalah negara penangkap tuna terbesar di dunia, dengan volume tangkapan mencapai lebih dari 752 ribu ton pada tahun 2022, menyumbang sekitar 15% dari total tangkapan global.

Ada yang mau menambahkan?

Tulisan terkait :


  • Gambar-gambar ilustrasi dari berbagai sumber





Sedikit tentang Konifer

Konifer adalah tumbuhan berbiji terbuka (gymnospermae) yang biasanya berupa pohon hijau abadi (evergreen) dengan daun berbentuk jarum atau sisik berlapis lilin agar tak kehilangan air dan menghasilkan biji dalam runjung (cone) kerucut. Bentuk pohon kerucut untuk menggelincirkan salju. Dominan di hutan taiga/boreal di belahan bumi utara.  
Sedangkan pohon desidu (deciduous tree) adalah tumbuhan yang menggugurkan daunnya pada musim tertentu, misalnya musim gugur atau musim kemarau di daerah tropis.  
Kata “conifer” berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata conus (kerucut) dan ferre (membawa/menghasilkan). Jadi secara harfiah, “conifer” berarti “pembawa runjung/kerucut” atau “tumbuhan yang menghasilkan runjung/kerucut.”

Hutan taiga/boreal

Ada pengecualian unik: Larch (Larix spp.) adalah konifer tetapi bersifat desidu, artinya jarumnya gugur di musim dingin dan tidak semua pohon cemara adalah konifer karena banyak pohon cemara tidak bereproduksi melalui runjung kerucut berbiji.

Ciri tumbuhan konifer :
Ada banyak jenis konifer yang memiliki beberapa ciri umum.
1. Rujung (cone) : Semua konifer memiliki runjung (cone). Polong berbiji ini adalah alat reproduksi atau perkembangbiakan konifer. Runjung khas dari konifer adalah kayu dan ringan, tetapi beberapa konifer membuat runjung berdaging, seperti pada pohon yew.
2. Berdaun Jarum: Banyak konifer memiliki dedaunan yang seperti jarum atau berduri, khususnya konifer hijau.Daun-daun tumbuhan jenis konifer juga mempunyai lapisan lilin yang membuatnya mampu bertahan dalam suhu ekstrem sehingga tidak mudah patah ketika tertutup salju.
3. Bentuk segitiga: Ukuran dan bentuk konifer sangat bervariasi, mulai dari kayu merah raksasa (Red Wood) yang menjadi pohon terbesar di dunia hingga pohon juniper berukuran sedang. Adapun bentuknya, beberapa konifer tumbuh dalam segitiga berbentuk pohon Natal tradisional, sementara yang lain tumbuh rendah dan rata dengan tanah.


11 Jenis Konifer
Ada ratusan spesies konifer alami yang dapat ditemukan di seluruh dunia, tumbuh di iklim yang berbeda. Berikut adalah beberapa pohon konifer yang paling umum di dunia
1. Pinus: Pohon pinus adalah salah satu konifer yang paling dikenal di dunia, karena inilah yang paling sering ditemukan sebagai pohon Natal. Keluarga pinus (pinaceae) adalah keluarga konifer terbesar dan pohon Pinus mercusii adalah genus terbesar dalam keluarga pinus. Pinus adalah konifer hijau dengan dedaunan berduri hijau dan kerucut yang tumbuh di ujung cabang. 

Contoh : Pinus mercusii

2. Cemara: Pohon cemara (Sipres atau Cupressus) adalah konifer yang selalu hijau dengan dedaunan hijau cerah yang tumbuh secara vertikal dalam bentuk tipis seperti puncak menara. Ada beberapa spesies cemara yang tumbuh lebih menyukai iklim hangat. Pohon cemara botak adalah contoh konifer yang tidak selalu hijau, karena merontokkan dedaunannya di musim dingin. 

Contoh : Cupressus sempervirens

3. Cedar: Pohon cedar (Cedrus) adalah konifer hijau yang berasal dari daerah pegunungan. Mereka membutuhkan hujan lebat dan tanah yang mengalir dengan baik untuk menghindari akar basah. Cedar paling sering dibudidayakan untuk kayu. 

Contoh : Cedrus libani (Cedar Lebanon)

4. Larch: Pohon larch (Larix) adalah konifer gugur yang tumbuh di iklim yang lebih dingin di Amerika Serikat, Kanada, dan hutan Siberia Rusia. Mereka memiliki dedaunan seperti jarum yang berubah menjadi keemasan dan rontok di musim gugur. 

Contoh : Larix decidua (European Larch)

5. Yew: Pohon Yew (Taxus) adalah konifer hijau dengan jarum hijau datar. Mereka memiliki runjung merah hias dan dapat dibentuk menjadi topiaries, menjadikannya pilihan populer untuk lansekap rumah. 

Contoh : Taxus baccata (European Yew)

6. Juniper: Pohon juniper (Juniperus) adalah konifer hijau yang tumbuh menjadi pohon berukuran sedang. Mereka memiliki daun seperti sisik dan berbeda karena runjung berdagingnya menyerupai buah. Pohon Juniper biasanya berwarna biru tetapi bisa juga berwarna merah atau oranye. 

Contoh : Juniperus communis (Common Juniper)

7. Hemlock: Pohon Hemlock (Tsuga) adalah konifer hijau yang memiliki dedaunan hijau tua dan runjung kecil. Banyak ditemukan di Amerika Utara dan Asia. 

Contoh : Tsuga canadensis (Canadian Hemlock)

8. Spruce: Pohon  spruce (Picea)  dikenal karena jarum empat sisinya yang tumbuh di sekitar cabang pohon secara spiral. Spruce dapat tumbuh sangat tinggi dan menghasilkan runjung yang menggantung di dahan. spruce biru—terkenal karena dedaunan biru kehijauannya—adalah salah satu spesies terpadat di Amerika Serikat. 

Contoh : Picea abies (Norway Spruce)

9. Fir: Pohon Fir (Abies) dikenali dari jarumnya yang menempel dicabangnya dengan cangkir hisap di ujung jarum. Runjung mereka tumbuh ke atas dari dahan, membuat mereka tampak seimbang di dahan. 

Contoh : Abies alba (European Silver Fir)

10. Cemara Douglas: Cemara douglas (Pseudotsuga menziesii) memiliki jarum hijau lembut yang menyerupai dedaunan di pohon cemara. Runjung betina pada cemara Douglas berwarna merah cerah dan menyerupai bulu burung. 

Contoh : Pseudotsuga menziesii

11. Red wood: Red wood arau Pohon kayu merah berasal dari California dan merupakan pohon tertinggi di dunia. Mereka memiliki dedaunan jarum datar dan memiliki tingkat pertumbuhan hingga 400 tahun untuk mencapai kematangan.
Coast Redwood adalah pohon tertinggi di dunia; individu bernama Hyperion mencapai 115,92 m.
Giant Sequoia adalah pohon dengan volume kayu terbesar; pohon General Sherman memiliki volume sekitar 1.487 m³.
Dawn Redwood sempat dianggap punah, lalu ditemukan kembali di Tiongkok pada 1940-an, sehingga disebut “living fossil.”

Contoh Redwood : Giant Sequoia (Sequoiadendron giganteum).


Ada yang mau menambahkan? 

Tulisan lain:







Terimakasih sudah berkomentar