Tampilkan postingan dengan label sketsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sketsa. Tampilkan semua postingan

Sedikit tentang Sumi-e

Sumi-e adalah seni lukis tinta tradisional Jepang yang berakar dari Tiongkok, masuk ke Jepang lewat biksu Zen sekitar abad ke-14, dan berkembang pesat pada periode Kamakura serta Muromachi. 

Seni ini bukan sekadar teknik melukis, tapi juga bentuk meditasi yang menekankan kesederhanaan, spontanitas, dan ekspresi jiwa lewat sapuan kuas minimalis.


Historis Sumi-e
  • Berasal dari Tiongkok dan berkembang pada masa Dinasti Tang (618–907) sebagai lukisan tinta monokrom (shuǐmòhuà). 
  • Masuk ke Jepang : Dibawa oleh biksu Zen pada abad ke-14, awalnya sebagai bagian dari praktik spiritual. 
  • Periode Muromachi (1336–1573) : Menjadi seni halus yang terkait dengan kalangan samurai dan kaum cendekia.
  • Periode Edo (1603–1868) : Populer di kalangan seniman dan sarjana, menjadi bagian dari budaya Jepang. 
  • Modern : Masih dipraktikkan, bahkan memengaruhi desain grafis dan ilustrasi kontemporer.  


Karakteristik dan Filosofis
Kosong tapi penuh : Ruang putih di kertas bukan “kosong”, melainkan bagian dari komposisi. Sama seperti Zen melihat kekosongan sebagai potensi.  
  • Kesederhanaan : Menggunakan tinta hitam (sumi) di atas kertas putih (washi), tanpa warna tambahan. Tinta sumi dibuat dari jelaga dan lem, menghasilkan gradasi dari pekat hingga transparan.
  • Spontanitas : Setiap sapuan kuas final, tidak ada koreksi yang mencerminkan filosofi Zen tentang menerima ketidaksempurnaan. 
  • Meditasi : Proses menggiling tinta, mengatur napas, dan membuat sapuan kuas adalah bagian dari latihan konsentrasi. 
  • Simbolisme alam : Tema klasik disebut Empat Simbol Mulia (Shikunshi):  
  • Anggrek liar melambangkan ketulusan  
  • - Bambu melambangkan ketahanan   
  • - Krisan melambangkan  keanggunan 
  • - Plum blossom melambangkan keteguhan.
  • Satu sapuan, satu dunia : Setiap goresan kuas adalah dunia kecil yang lengkap, tidak perlu tambahan.  
  • -  Latihan disiplin : Seniman sumi-e biasanya juga praktisi Zen, sehingga melukis adalah latihan spiritual, bukan sekadar estetika.  

Seniman Garda Depan
  • Sesshū Tōyō (1420–1506) : Biksu Zen, pelukis lanskap sumi-e paling berpengaruh.  


  • Hasegawa Tōhaku (1539–1610) : Dikenal dengan lukisan kabut dan pohon pinus.  

  • Yokoyama Taikan (1868–1958) : Menggabungkan sumi-e tradisional dengan inovasi modern. 


Sumi-e bukan hanya seni lukis, tapi juga  jalan spiritual : setiap goresan kuas adalah ekspresi jiwa dan latihan kesadaran penuh. Itulah sebabnya ia tetap relevan hingga kini, baik sebagai seni tradisional maupun inspirasi bagi seni modern.  

Ada yang mau menambahkan? 
Postingan terkait :




Gambar gambar ilustrasi diambil dari Duckduckgo, kredit milik fotografernya.



Bongkar-bongkar gudang, nemu beberapa komik Belgia yang nemani masa kecil. 
Ada Lucky Luke, Smurf, Steven Sterk, Achille Talon, Asterix dan tentu saja Tintin yang di Indonesia diterbitkan oleh Indira. 

Tintin dan Snowy - George Remi

Komik Belgia atau Komik kontinen Eropa ini biasa disebut Franco-Belgian comic, Bande dessinée (Prancis), Stripverhalen (Belanda) adalah istilah untuk gambar strip berbahasa Prancis yang berkembang di Prancis dan Belgia.
Menariknya, tradisi ini punya dua “aliran besar”:
Sekolah Marcinelle (Dupuis/Spirou): gaya lebih humoris, dinamis, karikatural.
Sekolah Brussels (Tintin/Le Lombard): gaya lebih realistis, detail, dokumenter. 
Di Belgia komik dianggap sebagai “seni ke sembilan”, maka tak heran Belgia melahirkan banyak kartunis karena kombinasi tradisi seni visual, dukungan penerbit, penerimaan budaya, dan tokoh ikonik yang membuka jalan. Di sana, komik bukan sekadar bacaan ringan, melainkan bagian dari warisan budaya yang dihargai setara dengan seni rupa dan sastra.

Smurf - Peirre Culliford

Gaya dan Ciri Khas Bande dessinée
  1. Ligne claire (Clear Line): Garis bersih, warna datar, mudah dibaca. Dipopulerkan oleh Hergé (Georges Remi)
  2. Spirou School: Lebih dinamis, ekspresif, penuh humor.Dikembangkan oleh Jijé (Joseph Gillain) dan André Franquin.
  3. Album Format: Biasanya 48–64 halaman, dicetak berkualitas tinggi, dan dijual seperti buku. 
  4. Genre beragam : Humor slapstik sehari-hari, petualangan, sejarah, fantasi, aviasi, hingga satire sosial-politik. 
Achille Talon - Michel Regnier

Resume Sejarah Singkat Bande dessinée
  1. 1930-an : Belgia melahirkan Tintin (Hergé, 1929) dan Spirou (1938). Ini menjadi fondasi tradisi komik modern Eropa. 
  2. 1945–1960 Pasca Perang Dunia II : Majalah Spirou dan Tintin berkembang pesat, melahirkan tokoh seperti Lucky Luke, Smurfs, dan Bob et Bobette. 
  3. 1959 Era Majalah Pilote (1959) : Di Prancis, Astérix lahir, bersama Tanguy et Laverdure. Majalah ini jadi wadah kreator muda. 
  4. 1960–1980 : Diversifikasi genre Western (Blueberry), humor (Agent 212), fantasi (Smurfs), aviasi (Buck Danny, Tanguy et Laverdure). 
  5. 1980–2000 : Muncul komik dewasa dan novel grafis, dengan tokoh seperti Moebius (L’Incal). 
  6. 2000–sekarang : Tradisi Franco-Belgia tetap hidup lewat festival Angoulême, penerbitan ulang klasik, dan adaptasi film/animasi. 
Lucky Luke - Morris

25 Bande dessinée klasik (Legenda Abadi) menurut saya 
  1.  The Adventures of Tintin, karya Hergé, Casterman Belgia 1929.
  2. Astérix, karya René Goscinny/Albert Uderzo Dargaud, Hachette Prancis 1959.
  3. Lucky Luke, karya Morris (kemudian Goscinny), Dupuis/Dargaud Belgia 1946.
  4. Spirou et Fantasio, karya Rob-Vel/Franquin, Dupuis Belgia 1938 (termasuk Marsupilami dan Zorglub).
  5. Gaston Lagaffe, karya André Franquin, Dupuis Belgia 1957.
  6. Smurf (Les Schtroumpfs) karya Peyo-Pierre Culliford, Dupuis Belgia 1958.
  7. Johan & Pirlouit, karya Peyo (Pierre Culliford), Dupuis Belgia 1952.
  8. Blake & Mortimer, karya Edgar P. Jacobs, Le Lombard Belgia 1946.
  9. Ric Hochet, karya Tibet, Le Lombard Belgia 1955.
  10. Nero, karya  Marc Sleen, Standaard Uitgeverij Belgia 1947.
  11. Suske en Wiske, karya Willy Vandersteen, Standaard Uitgeverij Belgia 1945.
  12. Cubitus, karya Dupa, Le Lombard, Belgia 1968.
  13. Steven Sterk (Benoît Brisefer), karya Peyo, Dupuis Belgia 1962.
  14. Achille Talon, karya Greg-Michel Regnier, Dargaud Prancis 1963.
  15. Blueberry, karya Jean-Michel Charlier Moebius, Dargaud Prancis 1963.
  16. Valérian & Laureline, karya Mézières & Christin, Dargaud Prancis 1967.
  17. Corto Maltese, karya Hugo Pratt, Casterman Italia/Prancis 1967.
  18. Michel Vaillant, karya Jean Graton, Le Lombard Prancis 1957.
  19. Bob Napi Badung (Bobo Francoval) karya Paul Deliège, Dupuis Belgia 1961.
  20. Agen Polisi 212 (L'Agent 212), karya Raoul Cauvin/Daniel Kox, Dupuis Belgia, 1975.
  21. Tanguy et Laverdure, karya Charlier & Uderzo, Dargaud Prancis 1959 .
  22. Iznogoud, karya Goscinny & Tabary, Dargaud Prancis 1962 
 

20 Bande dessinée Modern :
  1. Thorgal, karya Van Hamme & Rosinski, Le Lombard Belgia 1977.
  2. XIII, karya Van Hamme & Vance, Dargaud Belgia 1984.
  3. Jeremiah, karya Hermann, Dupuis Belgia 1979.
  4. Persepolis, karya Marjane Satrapi, L'Association Prancis 2000.
  5. Mortelle Adèle, karya Mr Tan Bayard, Jeunesse Prancis 2012.
  6. Les Enfants de la Résistance, karya Dugomier, Ers Le Lombard Belgia 2015.
  7. Les Sisters, karya Cazenove, William Bamboo Prancis 2006.
  8. Lanfeust de Troy, karya Arleston/Tarquin, Soleil Prancis 1994.
  9. Trolls de Troy, karya Arleston/Mourier, Soleil Prancis 1997.
  10. Sillage, karya Morvan Buchet, Delcourt Prancis 1998.
  11. Aldebaran (Cycles), karya Leo Dargaud, Brasil/Prancis 1994.
  12. De Cape et de Crocs, karya Ayroles/Masbou, Delcourt Prancis 1995.
  13. Les Nombrils, karya Delaf/Dubuc, Dupuis Kanada/Prancis 2006.
  14. Lou!, karya Julien Neel, Glénat Prancis 2004.
  15. Titeuf, karya Zep, Glénat Swiss 1992.
  16. Kid Paddle, karya Midam, Dupuis Belgia 1993.
  17. Mélusine, karya Gilson/Clarke, Dupuis Belgia 1995.
  18. Blacksad, karya Juan Díaz Canales/Juanjo Guarnido, Dargaud Spanyol/Prancis 2000.
  19. Le Monde Sans Fin, karya Jancovici/Blain, Dargaud Prancis 2021.
  20. L'Arabe du futur (The Arab of the Future), karya Riad Sattouf Allary Éditions Prancis 2014 

Eh daftar ini bisa berubah tergantung selera dan niche penggemar komik Belgia ya..

Kalau kau suka yang mana? 
Ada yang mau menambahkan?

Tulisan lain :



  • Gambar gambar ilustrasi dari duckduckgo,  kredit milik penerbitnya.


Sedikit tentang Gyotaku

Siapa bilang mendokumentasikan hasil tangkapan binatang laut tidak bisa menjadi barang seni? 
Nelayan Jepang kuno di jaman Edo sudah melakukannya dengan teknik gyotaku.

Cara mendokumentasikan ikan
Gyotaku berasal dari kata gyo (ikan) dan taku (cetakan).
Gyotaku yaitu teknik cetak ikan tradisional Jepang yang dilakukan dengan melumuri tinta pada tubuh ikan asli lalu menempelkan kertas atau kanvas untuk menghasilkan cetakan detail tekstur dari sisik, sirip, mulut dan bentuk ikan dengan ditekan. 
Seni ini awalnya dipakai nelayan jepang pada pertengahan abad ke-19 untuk mencatat ukuran dan jenis ikan hasil tangkapan, kemudian berkembang menjadi karya seni yang indah dan filosofis.


Filosofi di balik Gyotaku :
  • Menghormati kehidupan laut dengan tetap memanfaatkan ikan sebagai makanan setelah dicetak agar tidak terbuang sia-sia.
  • Menjadi simbol hubungan manusia dengan laut sebagai sumber kehidupan. 


Teknik Dasar Gyotaku
Teknik Klasik
- Metode langsung (Chokusetu-ho) : tinta sumi dioleskan langsung ke tubuh ikan, lalu kertas washi ditempel. 
- Metode tidak langsung (Kansetsu-ho) : kertas ditempel dengan pasta beras, lalu tinta ditepuk dari luar untuk kontrol warna lebih halus.  
Teknik  modern
- Seniman modern disamping mencetak tekstur dan bentuk ikan kemudian ditambahkan warna, latar artistik, atau detail kuas untuk mempercantik hasil.

perbandingan teknik klasik dan modern


Prinsip dasar tinta Sumi
  • Tinta sumi dibuat dari jelaga halus hasil pembakaran minyak atau getah pinus, dicampur dengan lem alami, lalu dikeringkan menjadi batang tinta padat. 
  • Sebelum digunakan, batang sumi digosok di atas batu tinta dengan sedikit air sehingga menghasilkan tinta cair pekat. 
  • Warna hitamnya memiliki nuansa abu-abu hingga hitam pekat, tergantung tekanan dan jumlah air yang memberi efek gradasi alami pada cetakan ikan. 
  • Tinta sumi menonjolkan tekstur alami ikan tanpa warna berlebihan sesuai filosofi wabi-sabi (keindahan dalam kesederhanaan). 
  • Setiap cetakan unik karena variasi tekanan dan kadar tinta yang menciptakan tampilan berbeda. 

Penerapan dalam Gyotaku
  1. Persiapan media: Kertas washi terbuat dari kozo (mulberry) digunakan sebagai media, dengan tinta sumi hitam pekat. 
  2. Persiapan Ikan: Ikan dibersihkan, dikeringkan, insang ditutup dan disusun agar bentuknya alami. 
  3. Dioles tinta: Tinta sumi diusap tipis di seluruh permukaan ikan menggunakan kuas lembut atau kain. 
  4. Dicetak: Kertas washi ditempel perlahan di atas ikan, ditekan lembut agar detail sisik dan sirip tercetak sempurna. 
  5. Finishing : setelah cetakan kering, seniman menambahkan kaligrafi nama ikan, tanggal, dan tanda tangan dengan kuas sumi. 

Seniman Gyotaku yang menonjol :
  • Sakai Tadayoshi : Daimyo dari Shōnai, yang membuat cetakan ikan crucian carp di Kinshi-bori, Edo, pada Februari 1839. Karya ini adalah gyotaku tertua yang masih ada dan isimpan di Tsuruoka City Local History Museum.
  • Kuwagata Keisai (1764–1824), seniman ukiyo‑e yang bereksperimen dengan cetakan ikan sebelum Gyotaku populer.
  • Nelayan-nelayan pada era Edo, Nelayan Jepang abad ke-19 menggunakan Gyotaku untuk mendokumentasikan hasil tangkapan, mereka menyempurnakan teknik mengatasi lendir ikan, menutup rongga tubuh, dan mengatur tekanan tinta agar cetakan bersih. 
  • Masatsu Matsunaga, Salah satu keluarga Matsunaga yang menjaga tradisi Gyotaku klasik.  
  • Dwight Hwang, Menggunakan teknik tradisional dengan tinta sumi dan kertas washi dengan fokus pada detail anatomi dan jiwa hewan laut.
  • Keisuke Matsunaga, menekankan disiplin waktu dimana tinta harus diaplikasikan dalam 30 menit agar cetakan tidak rusak. 
  • Elena Di Capita (Italia).
  • Nadia Auleta (Italia).

Perkembangan modern :
  • Kini Gyotaku dipajang di galeri seni, museum, hingga rumah pribadi.
  • Digunakan sebagai media edukasi tentang keanekaragaman hayati laut dan pelestarian lingkungan.
  • Banyak seniman kontemporer menggabungkan Gyotaku dengan tipografi, neon art, atau media digital untuk gaya modern.  

Ada yang mau menambahkan? 

Tulisan lain :






  • Foto foto dari duckduckgo, kredit milik seniwan gyotaku dan fotografernya.

Suatu ketika kami pernah mengikuti sayembara desain label minuman klasik, saat itu banyak kandidat juara yang menggunakan teknik engraving. 


Teknik engraving sering dipakai pada ilustrasi, komik, tatto, prangko dan tentu saja uang kertas (bank notes), Teknik ini :

  • perlu konsentrasi tinggi 
  • sulit dikoreksi
  • memerlukan waktu yang lama sehingga harus benar-benar sabar.


Apa itu hatching, cross hatching dan engraving

  • Hatching adalah teknik menggambar garis sejajar satu arah menggunakan pensil, tinta, atau media kering untuk memberi kesan bayangan atau tekstur sederhana pada gambar. 
  • Cross Hatching adalah menggambar garis berpotongan manual (misalnya diagonal dan horizontal) dengan sudut berbeda, yang memberi kesan bayangan, tekstur dan efek 3D.
  • Engraving secara harfiah berarti menggores. Jadi, engraving adalah proses menggores atau mengukir permukaan media biasanya pada media logam (metal engraving) dan kayu (wood engraving) . Dalam konteks seni grafis, istilah ini berarti cara visual dari hasil menggores/mengukir/gravir yang menjadi fondasi visual dalam seni cetak seperti engraving, etching, dan woodcut. Hatching dan cross hatching sering disebut teknik engraving karena keduanya merupakan metode garis yang digunakan dalam seni grafis cetak (engraving, etching, woodcut) untuk menciptakan ilusi volume, cahaya, bayangan, gradasi, tekstur, dan ilusi kedalaman 3 dimensi hanya dari arsir lewat kepadatan dan arah garis saja.

Hatching adalah gaya garisnya, sedangkan engraving adalah teknik produksinya.

Fungsi visual hatching dan cross hatching :

  • Ilusi kedalaman : Area dengan garis rapat tampak lebih gelap dan jauh, sedangkan area jarang tampak terang dan dekat.
  • Tekstur dan detail : Cross hatching memungkinkan variasi tekstur, dari kulit manusia hingga lekuk-lekuk kain.
  • Efek 3D : Dengan lapisan silang, seniman bisa menciptakan kesan optis kekasaran dan kedalaman tiga dimensi pada permukaan datar sebuah gambar. 

Asal usul awal engraving :

  • Bukti tertua engraving prasejarah berusia sekitar 540.000 –430.000 tahun. Ditemukan pada cangkang alat Homo erectus di Trinil, Jawa, 
  • Di 60.000 SM  di Afrika Selatan, kulit telur burung unta aebagai wadah air yang berukir.
  • Zaman Paleolitik, ukiran pada tulang,  wasgading, dan batu menjadi bagian penting dari ekspresi seni manusia.
  • Abad pertengahan : Teknik hatching mulai digunakan dalam manuskrip dan ilustrasi.
  • Abad ke‑15 (Renaisans) di Jerman & Italia. Engraving mulai digunakan pada pelat tembaga untuk mencetak gambar di atas kertas. 
  • Abad ke‑18 hingga abad ke‑20, engraving baja digunakan untuk pencetakan uang kertas dan dokumen keamanan (security papers).
  • Teknik gambar pada uang kertas (banknotes) itu sebenarnya engraving (ukiran/gravir), bukan sekadar hatching (arsiran) karena dihasilkan oleh garis-garis yang sangat halus, detail, dan sulit ditiru (sulit dipalsukan), dibuat dengan teknik intaglio engraving (cetak dalam), yang menggunakan prinsip garis-garis hatching dalam bentuk ukiran fisik pada pelat logam atau kayu. 
  • Uang kertas yang pertama kali menggunakan hatching/engraving adalah Bank of England pada akhir abad ke-17. 
  • Penerapan engraving pada uang kertas berkembang serius setelah penemuan steel engraving oleh Jacob Perkins sekitar 1792–1819, lalu dipopulerkan oleh American Banknote Company sekitar 1840.

Saat ini teknik menggambar engraving yang presisi bisa menggunakan software komputer seperti:

  • Jura : lebih cocok untuk high-security engraving (dokumen resmi, uang, meterai, security papers lainnya).
  • Gravostyle/EngraveLab :  lebih praktis untuk industri umum (ukiran perhiasan, trofi, signage).
  • ArtCAM unggul di ukiran artistik 3D, meski secara resmi sudah tidak dikembangkan.
  • Adobe Photoshop/Ilustrator lewat Photoshop action-nya .pat bisa untuk membuat arsiran/ hatching yang rapi. 

Sedang jenis-jenis cetak dalam (intaglio)  :

  1. Engraving : Mengukir langsung di media dengan burin (pahat halus). karakter cetakan : Garis tegas, detail presisi. 
  2. Etching/etsa : Pelat logam dilapisi lilin atau resin atau bahan tahan asam, lalu digores, kemudian pelat dicelupkan ke dalam larutan asam, yang mengikis bagian yang terbuka sehingga terbentuk alur permanen. Setelah diberi tinta dan ditekan (press) hasilnya berupa garis cetakan yang tajam dan detail yang bisa direproduksi.
  3. Drypoint : Jarum baja runcing ditarik langsung di pelat. Karakter cetakan : Garis lembut, ada efek “burr” (serabut tinta). 
  4. Mezzotint : Pelat dibuat kasar dengan rocker, lalu dihaluskan bertahap. karakter cetakan : Gradasi halus, efek bayangan pekat. 
  5. Aquatint : Serbuk resin dipanaskan di pelat, lalu digigit asam. karakter cetakan : Efek tonal mirip cat air.

Seniman pionir engraving : 

  • Master ES, Martin Schongauer, Erhard Reuwich, dan Michael Wolgemut memperkenalkan hatching dalam ukiran.

Sedang seniman legend engraving :

  • Albrecht Dürer, Gustave Doré, Franklin Booth, Charles Dana Gibson.
Albrecht Durer : Four horsemen

Albrecht Dürer : Menjadi tokoh penting yang menyempurnakan cross hatching dalam engraving dan woodcut dalam menciptakan efek realistis.


Ada yang mau menambahkan?


Tulisan lain :

01. Sedikit tentang Mokuhanga 

02. Ilustrator Terkaya Sejagat

03. sedikit tentang gyotaku 



  • Gambar-gambar ilustrasi dari duckduckgo

Sedikit tentang Mokuhanga

Jauh sebelum kita mengenal komik Jepang ala manga anime ada seni visual menawan, dalam seni cetak Jepang. Teknik cetak kayu kuno ini bernama mokuhanga.
Salah genre dari teknik ini adalah ukiyo-e.
Ukiyo-e atau “gambar dunia yang mengambang” adalah cetakan satu lembar yang merekam wajah budaya sejak era Edo. Ukiyo-e menggambarkan wanita anggun, aktor kabuki, lanskap alam, dan kisah rakyat yang hidup dalam palet warna yang mempesona. 
Suzukawa - Shin-hanga - Yoshida Hirosi

Teknik woodblock Jepang atau mokuhanga punya sejarah panjang :
  1. Teknik ini berasal dari Dinasti Tang di Tiongkok (618-907 M). Pada proyek Hyakumantō Darani (764 M), Permaisuri Kōken / Permaisuri Shōtoku memesan satu juta pagoda kayu kecil, yang berisi gulungan blok kayu kecil yang dicetak dengan teks Buddha (Hyakumantō Darani). Abad ke-11, kuil-kuil Buddha mulai mencetak sutra dan mandala menggunakan teknik woodblock.
  2. Periode Kamakura (1185-1333 M): Pencetakan berkembang di kuil Kyoto & Kamakura untuk sutra dan mandala. Saga-bon: Buku klasik cetakan kayu oleh Honami Kōetsu & Suminokura Soan; cikal-bakal buku seni cetak Jepang.
  3. Periode Edo (1603–1868 M) Teknik Mokuhanga berkembang pesat pada era Edo, terutama cetakan seni ukiyo-e yang menjadi cermin kehidupan kota dan lanskap budaya. Seniman seperti Katsushika Hokusai dan Utagawa Hiroshige menciptakan karya-karya ikonik seperti The Great Wave off Kanagawa. Didukung oleh tingginya literasi, toko buku dan persewaan yang menjamur. Konten Buku: Panduan wisata, novel, drama Kabuki, seni, kuliner, roman dan komedi.  
  4. Abad ke-20 hingga kini: Meski teknologi cetak modern mendominasi, mokuhanga tetap hidup lewat gerakan shin-hanga dan sōsaku-hanga yang muncul di awal abad ke-20. Seniman seperti Hasui Kawase dan Hiroshi Yoshida menghadirkan lanskap Jepang yang realistik namun tetap menyimpan aura kontemplatif. Studio-studio seperti Adachi Institute dan Takezasado masih memproduksi ukiyo-e dengan metode tradisional, menjaga nyawa sejarah tetap berdenyut dalam karya kontemporer
Teknik khusus dalam Mokuhanga berbeda dengan teknik cetak barat yang menggunakan tinta berbasis minyak, mokuhanga memakai tinta berbasis air yang memberikan warna cerah, transparan, dan bernuansa lembut. 
Beberapa teknik khas yang memperkaya estetika ini adalah:
  • Bokashi: gradasi warna yang lembut dan natural
  • Karazuri: emboss tanpa tinta untuk efek tekstur
  • Kira-e: penggunaan mika berkilau untuk kemegahan visual

Genre mokuhanga :
  1. Ukiyo-e : Kehidupan sehari-hari, kabuki, wanita cantik dan pemandangan lansekap
  2. Shin-hanga : Gaya ukiyo-e dikombinasikan dengan realisme barat
  3. Sōsaku-hanga : Seniman mengerjakan seluruh proses mulai dari desain, ukir, dan cetak sendiri.
  4. Edo Mokuhanga : Fokus pada budaya populer dan ilustrasi buku pada era Edo.
  5. Nishiki-e : Cetakan multi-blok berwarna-warni, berkembang sejak 1760-an.
  6. Yūrei-e (gambar hantu) :Pada periode Edo, seniman seperti Tsukioka Yoshitoshi dan Utagawa Kuniyoshi membuat cetakan kayu bertema hantu (yūrei), iblis, dan kisah seram dari folklore Jepang.
  7. Shunga (erotika) : Secara harfiah berarti “gambar musim semi,” yaitu cetakan kayu erotis yang populer di abad ke-17 hingga ke-19.
  8. Zankoku-e (macabre) : yang berarti “gambar kejam/sadis.
  9. Mokuhanga kontemporer : Eksperimen dengan tema abstrak, sosial, atau lingkungan secara global.

Tokoh-tokoh Mokuhanga:
1. Hishikawa Moronobu (genre Ukiyo-e), di era Edo awal, dia adalah pelukis ukiyo-e pertama. 
Hisikawa Moronobu

2. Suzuki Harunobu (genre Ukiyo-e), di era Edo (1725–1770) dia adalah pelopor cetakan berwarna (nishiki-e).
Suzuki Harunobu

3. Katsushika Hokusai (genre Ukiyo-e), hidup di era Edo (1760–1849) Dengan menghasilkan sekitar 30.000 karya selama hidupnya dan The Great Wave off Kanagawa adalah master piece-nya.
The Great Wave off Kanagawa by Hokusai

4. Utagawa Hiroshige (genre Ukiyo-e), hidup di era Edo (1797–1858), The Fifty-Three Stations of the Tōkaidō adalah masterpiece-nya. 
Evening Snow at Kanbara oleh Utagawa Hiroshige

5. Hiroshi Yoshida (genre Shin-hanga), di abad ke-20, Lanskap-lanskap realistik menjadi cirinya.
Morning Mist in Taj Mahal Hiroshi Yoshida

6. Hasui Kawase (genre Shin-hanga), di abad ke-20, pemandangan alam Jepang.
Mount Fuji Seen by Hasui Kawase

7. Kōshirō Onchi (genre Sōsaku-hanga), di abad ke-20, seniman abstrak, pelopor sōsaku-hanga.
8. Efrat Arielle Peleg (genre Kontemporer) Eksplorasi budaya dan alam dengan mokuhanga modern.

Karya-Karya ikonik Mokuhanga :
1. The Great Wave off Kanagawa oleh Katsushika Hokusai, salah satu cetakan paling terkenal di dunia, menggambarkan ombak raksasa yang bergulung gulung dengan Gunung Fuji sebagai latar belakang.
2. Rain Shower at Shinagawa oleh Utagawa Hiroshige, bagian dari seri The Fifty-Three Stations of the Tōkaidō,  suasana hujan lembut yang melankolis.
3. Evening Snow at Kanbara oleh Utagawa Hiroshige, Lanskap bersalju yang sunyi, menggambarkan keheningan desa Jepang.
4. Fuji from Gotenyama oleh Hasui Kawase, Gaya shin-hanga yang memadukan realisme dan nuansa puitis, memperlihatkan Gunung Fuji di bawah cahaya senja.
5. Cetakan kontemporer oleh Karen Kunc dan Roslyn Kean Eksplorasi abstrak dan isu lingkungan dengan teknik mokuhanga tradisional yang tetap relevan secara global.

Media : 
  1. Kayu : kayu cherry karena teksturnya halus, tahan lama, dan cocok untuk ukiran presisi.
  2. Alat : Pisau ukir, pahat, dan sikat digunakan untuk ukiran detail dan pewarnaan merata.
  3. Kertas : Kertas Washi atau kertas tradisional Jepang dari serat tanaman; kuat dan menyerap tinta secara merata.
  4. Tinta dan Pewarnaan : Tiap warna dicetak dari balok berbeda, tinta diratakan dengan kuas lalu ditekan ke kertas secara manual. 

Proses cetak:
  1. Dimulai dari sketsa digambar di kertas washi (gampi).
  2. Ditempel di balok kayu cherry. pengukiran balok kayu untuk tiap warna. Ukiran dilakukan pada garis gambar.
  3. Pewarnaan manual memakai kuas dan ditekan dengan baren. 
  4. Pencetakan dilakukan satu per satu.
  5. Registrasi warna memakai tanda kento.
Prosesnya bukan dikerjakan oleh satu orang. Desainer membuat sketsa, pengukir balok kayu memahat tiap warna, dan pencetak memastikan gradasi dan komposisi sempurna. Tak jarang satu cetakan butuh hingga 30 balok berbeda! Hasilnya? Visual yang mendalam dan ekspresif.

Keunikan cetakan : 
Walau desain sama, tiap cetakan hasilnya berbeda karena proses manual dan tekanan tinta yang berbeda.

Ada yang mau menambahkan? 

Tulisan lain :



gambar gambar dari duckduckgo 


Pencampuran warna adalah cara sederhana namun penting untuk menghasilkan nuansa baru. 


Dari warna primer lahirlah warna sekunder dan tersier, yang membuka kemungkinan tak terbatas dalam seni maupun desain. 

Jenis-jenis warna :
  • Warna Primer: kuning, biru, merah, putih, hitam,  emas, perak.
  • Warna Sekunder: Diperoleh dengan mencampur 2 warna primer, misal : Merah + Kuning = Oranye, Kuning + Biru = Hijau, Biru + Merah = Ungu/Violet
  • Warna Tersier: Diperoleh dengan mencampur  sekunder dan primer, misal : Merah + Ungu + Biru = Coklat, Oranye + Merah + Putih = Peach.
  • Warna Netral atau monokromatik : tambahan warna untuk campuran yang membentuk urutan warna yang senada : putih,abu-abu, hitam.
  • Tint atau Pastel : Diperoleh dengan menambah warna putih maka warna lebih muda, terang, kalem sering disebut sebagai pastel (tint).
  • Shade : Diperoleh dengan menambah warna hitam sehingga lebih gelap sering disebut shade.
  • Toned down : Diperoleh dengan menambah warna abu-abu, sehingga warna menjadi lebih redup/toned down.
  • Metalik:  Diperoleh dengan menambah serbuk logam atau campuran warna logam, misal : emas, perak, aluminum . 
Dengan memahami konsep warna primer, sekunder, tersier, serta prinsip komplementer, tint, dan shade, kita dapat mengontrol hasil visual pencampuran warna secara sistematis. 
Bagaimana dengan mencampur warna digital? kunjungi saja 
https://products.aspose.app/svg/id/color-mixer


Teknik pencampuran warna
  • Campur Langsung: Mencampur warna langsung di palet atau media lukis.
  • Campur Bertahap: Menambahkan warna sedikit demi sedikit untuk hasil yang diinginkan.
  • Impasto: Menggunakan media kental untuk efek dramatis dan tebal.
  • Blending: Menghasilkan gradasi halus dengan sapuan kuas lembut.
  • Layering: Menggunakan lapisan transparan untuk efek tumpang tindih.
  • Glazing: Melapisi warna tipis berulang untuk gradasi lembut.
  • Airbrush: Menyemprotkan warna untuk efek gradasi halus dan merata menggunakan spraygun, atomizer atau powdercoating.
Dari berbagai percobaan pencampuran warna, kita bisa melihat betapa kaya kemungkinan yang muncul dari kombinasi sederhana antara warna primer, sekunder, dan tersier. 

Namun teori CMYK tidak selalu sama dengan realita, dari beberapa kali mencampur warna ada beberapa catatan :
1. Warna jadi kotor (muddy) karena pigmen tidak murni, jadi semakin banyak campuran pigmen, maka warna akan semakin kotor (muddy) atau terlihat berlumpur.
2. Pada efek layering (menutup permukaan). warna tidak bersifat linear saat dicampur ada media yang menyerap dan hanya permukaan saja sehingga ada warna hidup dan ada warna warna lebih flat pada media yang berbeda (Transparent vs opaque)
3. Faktor Binder & Solvent, dimana pigmen (cat) butuh binder dan solven, pengikat dan  pelarut yang mempengaruhi aplikasi, sehingga warna bisa berubah atau pudar saat warna mengering.
4. Sample warna pada media kecil sering menipu atau terlihat berbeda pada media dengan luasan yang lebih besar, karena ada banyak faktor lapangan (aplikasi, suhu, cuaca dan faktor lain).
5. Warna hitam sempurna sulit dicapai.

Rule of Thumb Praktisi : Jangan campur lebih dari 3 pigmen, sebaiknya delalu test pada material asli karena warna saat basah ≠ warna saat kering.

Ada yang mau menambahkan?

Tulisan terkait :





  • Gambar ilustrasi dibuat oleh 0all-E3
Glosarium :





Dulu banyak pencerita atau pendongeng hanya mendongeng dengan ilustrasi atau boneka saja. Dengan hadirnya perangkat digital, ilustrasi dan komik menjadi kian menarik, sehingga para ilustrator atau komikus dapat menjaring fanbase setia dimana penggemarnya rela untuk menghabiskan uang demi komik.

Dengan hadirnya teknologi sinematografi mereka juga menghasilkan uang yang fantastis, jika karyanya dibuat film, pendapatan dari royalty akan semakin  menggelembungkan dompet mereka.

Saya tidak tahu, orang-orang kreatif ini anda sebut sebagai apa? Ilustrator, komikus, animator, sutradara atau story teller. Saya lebih suka menyebutnya sebagai ilustrator pencerita yang sangat menginspirasi.

Lantas, siapa saja ilustrator-pencerita tersukses mengumpulkan pundi-pundi kekayaan? 


1. Walt Disney 

Saat meninggal Walter Elias Disney, animator ini memiliki kekayaan bersih $5 miliar. Walt Disney Company diperkirakan bernilai $74,9 miliar dan masih menghasilkan film animasi dan live-action pemenang penghargaan. 

Karakter karakter Disney (wallpaperdog.com)

Beberapa karakter animasi kesayangan lainnya yang diciptakan oleh Disney adalah Mickey Mouse, Minnie Mouse, Donald Duck, Goofy, Pluto, Winnie the Pooh. Pinocchio, Fantasia, Dumbo, dan Bambi. 


2. Trey Parker dan Matt Stone 

Memiliki kekayaan bersih gabungan sebesar $800 juta. South Park, yang ditayangkan di Comedy Central, dikembangkan dari dua film pendek animasi yang dibuat oleh duo tersebut pada tahun 1992 dan 1995. 

Karakter-karakter di Southpark (liveabout. com) 

3. Matt Groening 

Matthew Abram “Matt” Groening adalah kreator The Simpsons  yang memiliki kekayaan bersih sebesar $500 juta.

Karakter-karakter The Simpsons (simpsons.wikia.com)

Penulis skenario/komedian/produser televisi tersebut juga menciptakan serial animasi Futurama, yang memenangkan Penghargaan Emmy 2011 untuk Program Animasi Terbaik. 


4. Hanna-Barbera 

Keduanya memiliki $300juta. Meskipun William Hanna dan Joseph Barbera telah meninggal karakter mereka tetap hidup berkat Warner Bros. Animation (WBA), banyak fanbase, Cable, YouTube, dan media elektronik yang ada di antaranya.

Karakter-karakter Hanna Barbera (screenrant.com)

5. David Choe

David Choe adalah seorang pelukis, seniman grafiti, novelis grafis, dan muralis Amerika. Melansir dari Celebrity Net Worth, Dia memiliki kekayaan bersih sebesar US$300 juta atau setara dengan Rp 4,6 triliun.  

Dia telah bekerja untuk majalah seperti "Hustler", "Vice", dan "Ray Gun", dan dia menjadi co-host podcast "DVDASA" Karyanya lainnya berjudul Slow Jams dan lukisan paus bergigi.


6. Eiichiro Oda

Dilansir dari Wealthy Genius memiliki kekayaan bersih mencapai USD150 juta atau sekitar Rp2,25 triliun pada 2023. Oda merupakan mangaka dari manga One Piece.

Ia memenangkan lebih dari 12 penghargaan termasuk Penghargaan Sondermann dan Rekor Dunia Guinness untuk "salinan terbanyak yang diterbitkan untuk seri buku komik yang sama oleh satu penulis". One Piece diserialkan sejak tahun 1997 dan terjual lebih dari 470 juta kopi di seluruh dunia. 


7. Stan Lee 

Stan Lee adalah seorang penulis, editor, penerbit, produser, dan aktor dari Amerika.

Karakter-karakter super hero Marvel (wallpapercave.com)

Menurut Wealthy Genius, Stan memiliki kekayaan bersih sebesar US$80 juta atau setara dengan Rp1,2 triliun.  Pada tahun 1960, Stan Lee mendirikan Marvel Comics yang memperkenalkan karakter-karakter superhero yang menarik minat orang banyak. Dia adalah dalang dibalik Spider-Man, X-Men, Iron Man, Thor, Black Panther, Dr. Strange, dan Ant-Man. 


8. John Lasseter

Memiliki $100 Juta karena ilustrator -visioner ini dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab atas sebagian besar kesuksesan Pixar yang diawali oleh Toy Story. 

Karakter-karakter Pixar (worldupclose.in)

Selain Toy Story, Lasseter menyutradarai, memproduksi, atau menjadi produser pendamping banyak film Pixar pemenang penghargaan seperti Toy Story 2, Cars, A Bug's Life, Monsters, Inc., dan Finding Nemo, Big Hero 6, Inside Out, Get a Horse!, Monsters University, Frozen, Brave, dan banyak film pemenang penghargaan lainnya.   


9. Stephen Hillenburg 

$90 juta dimiliki oleh seorang mantan guru biologi laut yang menciptakan Spongebob Squarepants. 

Spongebob Squarepants adalah perusahaan global yang bernilai lebih dari $8 miliar. 


7. Tim Burton 

Kreator Beetlejuice ini memiliki kekayaan $80 juta. Dia adalah raja animasi stop-motion gelap dan film-film live-action pemenang penghargaannya juga sangat menyeramkan seperti The Nightmare Before Christmas, Corpse Bride, Alice in Wonderland (2010), James and the Giant Peach, dan Frankenweenie. Sedangkan untuk film live-action, Beetlejuice, Planet of the Apes, Sleepy Hollow, Batman, Batman Returns, Batman Forever, dan Big Eyes.

Burton dipecat dari Walt Disney studio, tetapi inovator ini sukses di Warner Bros. di mana ia mengerjakan proyek-proyek seperti Pee Wee's Big Adventure


8. Mike Judge

Memiliki kekayaan $75 Juta. Mike Judge adalah seorang animator, produser, penulis skenario, dan pengisi suara yang terkenal lewat film serial animasi klasik MTV Beavis and Butt-head, dan serial TV populer King of the Hill. 


9. Akira Toriyama 

Mangaka Jepang. Toriyama diketahui telah menjual lebih dari 350 juta eksemplar karya-karyanya yang luar biasa. dia memiliki kekayaan bersih yang signifikan sekitar US$50 juta atau setara dengan Rp780 juta. 

Akira Toriyama sangat populer untuk karya-karya seperti Dragon Ball, Dr. Slump, Dragon Quest, Chrono Trigger, dan Blue Dragon. Selain sebagai komikus, nyatanya dia juga pernah terlibat sebagai desainer karakter untuk Dragon Quest dan Chrono Trigger. 


10. Hajime Isayama 

Menurut Wealthy Genius diperkirakan memiliki kekayaan bersih sebesar USD45 juta atau Rp675 miliar pada 2023.

Hajime Isayama merupakan sosok di balik manga ternama Attack on Titan yang telah didistribusikan sebanyak 100 juta kopi per Januari 2022. Isayama juga menciptakan Attack on Avengers (2014) dan The Killing Pawn (2014). 


11. Gosho Aoyama

Dilansir dari Wealthy Genius Aoyama mampu meraup kekayaan yang diperkirakan mencapai USD35 juta atau sekitar Rp525 miliar pada 2023.Detective Conan adalah karyanya yang diadaptasi menjadi anime oleh Yomiuri Telecasting Corporation dan TMS Entertainment yang tayang perdana pada tahun 1996. 


12. Naoko Takeuchi 

Alias Naoko Togashi menurut Yahoo! Finance, dia memiliki kekayaan bersih sekitar US$33 juta atau setara dengan Rp515 miliar. Dia terkenal karena karya-karya seperti Sailor Moon dan Codename : Sailor V. 


13. Robert Kirkman 

Robert adalah seorang komikus, editor, dan produser eksekutif asal Amerika yang memiliki kekayaan bersih sekitar US$23 juta atau setara dengan Rp359 miliar. 

Dia menulis komik seperti The Walking Dead , Invincible, Tech Jacket, dan Outcast. Adapun, beberapa karya terkenal milik Kirkman adalah Battle Pope, Marvel Zombies, Oblivion Song, dan Irredeemable Ant-Man.


14. Yoshihiro Togashi

Dilansir dari Wealthy Genius kekayaannya hingga sebesar USD20 juta atau Rp300 miliar pada 2023.

Yoshihiro Togashi dikenal dengan mahakaryanya Hunter X Hunter yang memiliki 380 bab dalam 36 volume dan diadaptasi menjadi serial televisi anime sebanyak 62 episode oleh Nippon Animation dan serial anime keduanya diproduksi oleh Madhouse Dengan 79 juta eksemplar yang terbit dari 1998-2018, Hunter X Hunter telah mencapai penjualan hampir USD80 juta di seluruh dunia. 


15. Kevin Eastman dan Peter Laird

Masing-masing memiliki kekayaan bersih sekitar US$20 juta atau setara dengan Rp312 miliar melalui kepenulisan mereka lewat serial favorit Teenage Mutant Ninja Turtles. 


16. Neil Richard Gaiman

Komikus Inggris ini memiliki kekayaan bersih sekitar US$20 juta atau setara dengan Rp312 miliar. 

Dikenal melalui karyanya yang berjudul The Sandman, Neverwhere , American Gods , Stardust, Coraline , The Graveyard Book, Good Omens, dan The Ocean at the End of the Lane. Gaiman juga telah menerima beberapa penghargaan sastra seperti penghargaan Hugo, Nebula, dan Bram Stoker. 


17. Masashi Kishimoto

Kekayaan pencipta Naruto ini diperkirakan telah mencapai USD15 juta atau sekitar Rp225 miliar. Dia bekerja dan menciptakan manga shonennya sendiri untuk majalah Weekly Shonen Jump. 


18. Joe Quesada

Joe terkenal karena komik Valiant-nya, diikuti oleh Marvel dan DC yang legendaris. Menurut ZUU Online, Quesada memiliki kekayaan bersih yang mengesankan sebesar US$10 juta atau setara dengan Rp156 miliar.

Karya-karyanya yang terkenal : Ninjak dan Solar, Man of the Atom, dan Batman: Sword of Azrael dan X-Factor di bawah komik Marvel dan DC. Dia juga terkenal karena menciptakan karakter Ash.   


19. Jim Zubkavich 

Jim Zub adalah seorang komikus Kanada, Dia memiliki kekayaan bersih sekitar US$2,10 juta atau setara dengan Rp32,7 miliar. Dia terkenal dengan komik Samurai Jack-nya. Karya Jim yang paling terkenal termasuk Skull-kickers, Wayward, Glitterbomb , Samurai Jack, dan Thunderbolt. Selain itu, Zub juga menguasai komik seperti Dungeons & Dragons, Uncanny Avengers, dan Avengers : No Road Home.   


20. Raina Telgemeier

Komikus Amerika ini memiliki kekayaan bersih sekitar US$1,5 juta atau setara dengan Rp23,4 miliar. 

Raina Telgemeier Books

Dia telah menulis beberapa komik antara lain : Smile (2010), Drama (2012), Sisters (2014), Ghosts (2016), dan Guts (2019).


Tulisan terkait : 


Data dari berbagai sumber dan tulisan ini dibantu oleh AI. 

#popculture #comics #manga #mangaka
#jimzub #joequesada #eechirooda


Sedikit tentang Doodle

Akhirnya kami diberi kesempatan corat-corat di sebuah kafe. Mulanya pengen dibuat dengan gaya dekoratif Bali, tapi akhirnya memilih gaya doodle. 

Doodle adalah gambar atau coretan spontan yang biasanya dibuat tanpa tujuan atau rencana tertentu. Doodle sering kali dilakukan saat seseorang sedang melamun atau bosan, dan bisa ditemukan di pinggir kertas saat rapat, pelajaran, atau bahkan saat berbicara di telepon.

Doodle mulai mendapatkan perhatian media sosial dan internasional setelah banyak karya seni doodle dijual secara online. Salah satu  artis ternama adalah Mr. Doodle, 

Mr Doodle a.k.a Sam Cox

Mr. Doodle atau sam Cox adalah seorang ilustrator dan seniman dari Kent, Inggris. Dia terkenal dengan gaya uniknya yang disebut "graffiti spaghetti". Gaya ini terdiri dari coretan monokromatik yang sangat detail dan rumit, dan dia sering menggambar di berbagai permukaan seperti kertas, dinding, dan bahkan perabotan. Dia memiliki sekitar 3 juta pengikut di Instagram dan beberapa karyanya telah dijual dengan harga tinggi. Pada tahun 2020, dia berada di peringkat ke-5 di dunia untuk penjualan seni lelang untuk seniman di bawah 40 tahun.

Sejarah doodle tidak mudah dilacak karena coretan semacam ini telah ada sejak manusia pertama kali mulai membuat tanda-tanda. Banyak seniman terkenal yang memiliki kebiasaan doodling, seperti Leonardo da Vinci dan John Keats, yang doodle-nya ditemukan di margin catatan dan buku catatan mereka.

Pada era modern, doodling mendapatkan pengakuan lebih luas berkat tokoh seperti Keith Haring dan Jean-Michel Basquiat, yang menggunakan gaya doodle dalam karya seni mereka.

Setiap seniman doodle mungkin memiliki gaya unik mereka sendiri, namun secara garis besar terdapat beberapa aliran atau gaya yang sering digunakan oleh seniman.di antaranya:

  • Graffiti Doodle: Gaya ini menggabungkan elemen-elemen dari graffiti dengan teknik doodle, sering kali menggunakan warna-warna cerah dan bentuk-bentuk yang rumit.
  • Doodle Abstrak: Gaya ini lebih fokus pada bentuk-bentuk yang tidak menggambarkan objek tertentu, melainkan lebih kepada ekspresi artistik yang bebas dan spontan.
  • Doodle Realisme: Dalam gaya ini, seniman mencoba menggambarkan objek atau makhluk hidup dengan detail yang sangat baik, meskipun masih dalam bentuk doodle.
  • Doodle Surreal: Gaya ini menggabungkan elemen-elemen yang realistis dengan elemen-elemen yang fantasi atau mimpi, menciptakan gambar yang menakjubkan dan menarik.
  • Doodle Minimalis: Gaya ini menggunakan bentuk-bentuk dan garis-garis yang sangat sederhana dan ringkas, tetapi tetap menarik dan mengekspresikan ide-ide artistik.
Ada yang mau menambahkan? 

Tulisan terkait 


Terimakasih sudah berkomentar