Sedikit tentang Jangkrik
31 Mei 2026 by yoxx
Di malam musim kemarau seperti saat ini, saat udara gerah, suara jangkrik atau cengkerik terdengar seperti simfoni malam menjadi penenang sambil minum kopi.
Waktu bocah, saat malam-malam liburan di musim kemarau, kami biasa mencari Jangkrik untuk mengadu kerasnya suara mereka (psstt kami tidak boleh mengadu duel jangkrik) dan hingga kini tidak pernah lupa nikmatnya jangkrik bakar atau jangkrik sangrai dengan bumbu kecap.
Yup jangkrik ternyata mempunyai beberapa keunikan :
01. Jangkrik atau cricket (Gryllidae)
sudah ada sejak dari jaman Kapur, fosilnya ditemukan di Brasil.
02. Jangkrik dipelihara manusia sejak lama, di Asia dianggap sebagai pembawa keberuntungan. Di Caraguatatuba, Brasil, jangkrik hitam dipercaya sebagai tanda datangnya penyakit, jangkrik hijau datangnya harapan dan jangkrik kelabu datangnya uang.
03. Sejak dahulu jangkrik dijadikan permainan atau hiburan. Anak-anak desa di Indonesia biasa memelihara jangkrik, terutama dari jenis jangkrik kalung (Gryllus bimaculatus) dan jenis-jenis jangkrik celiring (Teleogryllus spp.) untuk dinikmati suaranya ataupun untuk diadu. Adu jangkrik yang melibatkan orang-orang dewasa telah ada di Tiongkok sejak era Dinasti Song (960-1278 M). Kebiasaan ini dibawa ke Jawa oleh orang Tionghoa, hingga kemudian merasuki segenap warga Keraton Jogyakarta di masa Sultan Hamengku Buwana VII (1877-1921).
04. Jangkrik adalah serangga berbentuk silindris (beberapa spesies ada yang agak gepeng tegak). Kepalanya hampir bulat dengan sepasang sungut panjang menjuntai didepan mata majemuk. Di dahinya ada 3 buah ocelli (ocellus, mata sederhana atau mata tunggal) Di belakang kepala terletak pronotum (ruas dada yang pertama) tanpa tepi dan gigir punggung dan abdomen (perut) yang beruas-ruas. Di ujungnya terdapat sepasang cerci (alat peraba mirip duri lunak), pada betina terdapat ovipositor yang panjang seperti jarum, halus, serta berkilau. Femora ('paha'; pada ruas ketiga) pada pasangan kaki belakang, berukuran besar dan berguna untuk melompat. Sedangkan tibia ('betis', ruas keempat) pada kaki belakang dilengkapi dengan deretan duri yang dapat digerakkan dengan susunan yang berbeda-beda tiap spesiesnya.Tibia umumnya dilengkapi dengan satu atau dua timpani (tunggal: timpanum: 'gendang telinga') yang berfungsi menangkap getaran suara. Saat gelombang suara melewati timpani, organ ini akan bergetar. Getaran ini akan dirasakan oleh organ khusus yang disebut chordotonal, yang mengubah suara menjadi impuls saraf sehingga jangkrik mampu memahami apa yang didengarnya.
05. Jangkrik memiliki sayap luar di depan dan sayap dalam di belakang. Saat terbang, sayap dalam difungsikan dengan baik. Sayap luar berguna untuk melindungi keberadaan sayap dalam. Sayap jangkrik menempel ketat membungkus sisi atas abdomen. Sayap ini berbeda ukuran dan warnanya menurut jenis jangkrik: ada yang panjang, ada yang pendek, bahkan ada yang tanpa sayap. Sayap depan (elytra) terbuat dari kitin yang kaku, berfungsi sebagai pelindung abdomen yang relatif lunak, pada hewan jantan sebagai tempat organ pengerik untuk menghasilkan suara. Sayap belakang serupa membran tipis yang berfungsi untuk terbang, dan dilipat saat jangkrik hinggap.
06. Jumlah mata jangkrik sangat banyak sehingga disebut mata majemuk. Mata majemuk jangkrik hanya berfungsi pada malam hari, Pada siang hari tidak berfungsi dengan baik.
07. Di antara mata dan perut (abdomen) terdapat dada yang menjadi tempat melekatnya kedua sayap. Dada jangkrik terbagi menjadi 2 bagian, yaitu dada kanan dan kiri sebagai tempat melekatnya sayap kanan dan kiri.
Pada Abdomen atau perut jangkrik terdapat beberapa organ luar seperti cerci, spirakel, dan ovipositor. Khusus ovipositor, hanya jangkrik betina yang memiliki, fungsinya sebagai tempat keluar masuknya telur jangkrik. Untuk menanggapi rangsangan dari luar, jangkrik menggunakan cerci. Organ ini tepatnya terletak di ruas kesebelas perut jangkrik.
07. Sistem pernafasan jangkrik terdiri dari spirakel, trakea, dan trakeola.
Di ruas ke-2 hingga ruas ke-8 ada organ spirakel yang mirip hidung dengan lubang kecil yang menghubungkan langsung ke trakea. Spirakel akan membuka jika karbondioksida memenuhi ruang tubuh jangkrik. Saat pertukaran udara, karbondioksida dan oksigen masuk ke dalam tubuh lewat spirakel. Oksigen didistribusikan ke seluruh tubuh melalu aliran darah. trakea mempunyai cabang-cabang (trakeola) berfungsi sebagai tempat mengalirnya oksigen.
08. Organ jangkrik betina berbeda dengan jangkrik jantan. Misalnya, alat reproduksi, pada jangkrik betina berupa ovarium. Ovarium terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu indung telur, saluran telur, sel folikel, sel germanium, oosit, dan spermateka. Pada jangkrik jantan, alat kelaminnya berupa vas differentia, seminal vesikal, dan ductus ejakulatori.
09. Jangkrik mempunyai air liur (saliva) seperti mamalia dan mempunyai tembolok seperti unggas. Jangkrik mempunyai sistem pencernaan yang terdiri diri dari mulut, kelenjar saliva, dan kanal elementary. Makanan yang masuk digigit, dipotong dan dikunyah menggunakan mandibula (rahang). Penguraian dilakukan oleh kelenjar saliva dan didorong masuk ke esophagus kemudian ke tembolok. tembolok pada jangkrik berguna untuk menyimpan cadangan makanan sebelum dicerna. Makanan di lambung dicerna lebih halus lagi oleh enzim-enzim pencernaan. Enzim tersebut yakni, amilase, maltase, invertase, tryptase, dan lipase. Kemudian makanan diserap oleh haemocoel menjadi sari-sari makanan, lalu disebarkan ke seluruh tubuh. Organ hindgut mengubah sisa makanan menjadi pelet kering yang dibuang keluar melalui lubang anus. Jangkrik mengeluarkan kotorannya setiap kali selesai mencerna makanan. Itulah sebabnya, kotoran jangkrik sangat melimpah dan harus dibersihkan setiap hari.
10. Jangkrik mengalami metamorfosis tidak sempurna, karena siklus hidupnya hanya melewati tiga fase, yaitu fase telur, fase nimfa, dan fase dewasa (imago). Telur jangkrik akan menetas pada umur kurang lebih 13 hari, umur nimfa adalah sekitar 1,5 bulan dan umur jangkrik dewasa sekitar 1,5 bulan. Nimfa jangkrik akan berganti kulit sebanyak 6 sampai 8 kali selama masa pertumbuhannya. Setelah nimfa ganti kulit yang terakhir akan menjadi jangkrik dewasa, Jangkrik dewasa akan mulai kawin setelah mereka berumur 3 sampai 4 hari.
11. Di dunia dikenal sekitar 1000 spesies jangkrik (cricket) , termasuk di dalamnya adalah gangsir (mole cricket), namun jangkrik berkerabat jauh dengan belalang (grasshoper) dan belalang daun (katydid). 100 spesies ada di Indonesia. Keragaman jangkrik tertinggi berada di wilayah tropis. Di dekat Kuala Lumpur, pernah tercatat sebanyak 88 spesies yang terdengar suara deriknya dari satu lokasi saja.
12. Jangkrik dikenal dengan suaranya yang khas, dihasilkan oleh jangkrik jantan. Suara ini digunakan untuk menarik jangkrik betina dan mengusir kehadiran jantan lainnya. Suara jangkrik jantan berasal dari gesekan sayap-sayapnya. Salah satu sayap jangkrik tepinya bergerigi yang lainnya datar, gesekan antara sayap tersebut akan mengeluarkan suara yang diperkuat oleh membran tipis sayap sehingga menghasilkan bunyi yang keras. Jangkrik mengeluarkan suara yang sangat bervariasi dengan tujuan yang berbeda-beda. Saat mencari pasangan, Suara jangkrik jantan (stridulasi) biasanya mengeluarkan suara agar si betina mendekat dan mengenalinya, ketika si betina sudah mendekat, suaranya akan kembali berubah, suara selanjutnya mencoba meyakinkan si betina bahwa dia adalah yang terbaik di antara jantan lainnya. Jika si betina menerima jangkrik jantan tersebut sebagai pasangan maka dia akan menyanyikan lagu untuk mengumumkan “ikatan” mereka.
13. Jangkrik jantan memiliki usia lebih pendek dibandingkan jangkrik betina. Lama siklus hidup jangkrik betina lebih dari tiga bulan, sedangkan jangkrik jantan kurang dari tiga bulan.
14. Jangkrik ditemukan di semua bagian dunia kecuali di wilayah dingin di atas lintang 55° ke utara maupun selatan. Daerah bersuhu sedang menjadi habitat hidup para jangkrik, Jadi ketika berada di kandang budidaya, suhunya tidak boleh dingin. Suhu dingin akan mengakibatkan kematian, sedang suhu yang terlalu panas berpotensi membuat jangkrik memakan sesamanya (kanibal) karena kekurangan makanan berkadar air tinggi.
15. Jangkrik hidup di berbagai macam habitat. Kebanyakan tinggal di antara rerumputan dan terna, jenis-jenis lain hidup di semak-semak, tajuk pepohonan, tanah, gua, ada yang menggali lubang-lubang di tanah, ada pula yang bersembunyi di balik tumpukan batu atau kayu lapuk.
16. Jangkrik adalah serangga layak santap (edible insects). Entomophagy atau praktek memakan serangga telah menjadi kebisaan di Asia: Indonesia, Thailand, Kamboja, Tiongkok, Korea, dan Jepang; dan belakangan juga di Amerika, Kanada, dan Australia. Bagi yang tidak suka makan jangkrik utuh, tersedia tepung jangkrik.
17. Jangkrik tinggi kandungan protein dan kalsium, dalam 100 gram jangkrik terdapat 13 gram protein dan 76 mg kalsium.
18.Kandungan protein jangkrik dua kali lipat dari protein yang ada dalam daging sapi, ayam atau udang. Daging jangkrik mengandung zat antioksidan yang bermanfaat mencegah kerusakan sel akibat radikal bebas dan berpotensi mendukung kesehatan pembuluh darah.
19. Menurut fatwa MUI no. Kep-139/MUI/IV/2000, mengkonsumsi dan memelihara jangkrik tergolong mubah dan halal.
20.Jangkrik adalah serangga omnivora. Pada lingkungan budidaya, diberikan pakan sayuran hijau yang banyak mengandung air seperti sawi, bayam, selada, mentimun dan daun pepaya bahkan pelet babi.
21. Meskipun tidak beracun atau menyengat, jangkrik aktif memakan berbagai jenis tanaman muda, merusak akar, hingga melubangi pakaian di dalam rumah.
22. Ternak jangkrik adalah proses budidaya jangkrik dalam jumlah yang banyak untuk tujuan bisnis pakan hewan peliharaan seperti burung, ikan, dan reptil. Ternak jangkrik juga dilakukan dalam skala kecil sebagai hobi atau hewan aduan. Hanya beberapa spesies yang dipelihara untuk ternak jangkrik komersial, seperti Gryllus mitratus dan Gryllus testaclus.
23. Jangkrik menyukai lingkungan tenang, sunyi, teduh dengan sirkulasi udara yang baik. Hindari lokasi yang ramai dan bising oleh kegiatan manusia, kandang ayam atau hewan lain yang memangsa jangkrik ternakan seperti semut, cecak, tokek, dan tikus. Ruangan pemeliharaan tidak boleh terkena sinar matahari langsung.
24. Suhu udara di sekitar mampu diukur lewat suara jangkrik. Profesor Amos E. Dolbear dari Universitas Tufts pada 1897 mengamati hubungan antara jumlah bunyi krik jangkrik dan suhu udara disekitarnya. Pada tahun 1897 beliau menerbitkan makalah “The Cricket as a Thermometer” yang membahas mengenai persamaan matematika yang disebut dengan Hukum Dolbear yaitu suara jangkrik semakin keras bila suhu sekitar semakin tinggi.
25. Jangkrik cenderung mengerjakan segala sesuatunya sendirian.
26. Jangkrik umumnya mencari makan di malam hari (nokturnal). Namun kebiasaan ini berubah ketika jangkrik hidup dalam budidaya. Jangkrik akan mencari makanan sepanjang waktu, bahkan makan dalam kondisi tidur.
27. Jangkrik tidak mempunyai perlindungan dari lalat parasit. Lalat parasit mempunyai kemampuan menemukan letak jangkrik dari suaranya. Saat jangkrik diam, Lalat parasit meletakan telurnya. Larva lalat parasit menetas, mereka akan memakan si jangkrik tersebut.
Jangkrik bukan sekadar serangga berisik di malam hari, tapi punya peran ekologis, budaya, bahkan ekonomi yang unik.
Ada yang mau menambahkan?
Tulisan terkait :
03. Istilah Budidaya
- gambar ilustrasi dibuat oleh dall-e3
- foto ilustrasi milik gettyimages, kredit milik fotografernya
#beternakjangkrik
#katydidsound #cricketsong
#suarajangkrikpengusirtikus
#jangkrikboss #jangkrikbos #jangkrikgenggong









Posting Komentar